
Ba mohon ampun ka Nan kuaso
Dek doso tadorong salamo ko
Ratok tangih masih tasiso
Baulang balik bancano manimpo
Raso bapisah nyao jo badan
Padiah raso manusuak hati
Usah langik dan disalahan
Awak bana nan marusak bumi
Belum habis air mata membasahi pipi. Isak tangis, masih mengiringi sisa bencana yang terjadi. Tempat tinggal hanyut dibawa arus, mengiringi kayu gelondong yang memenuhi sungai. Sawah dan ladang rata dengan tanah. Infrastruktur, terutama jalan ambruk dan jembatan putus. Semua derita itu terjadi, saat banjir dan longsor meluluhlantakan negeri ini
Hujan, mengakibatkan banjir dan longsor, terjadi pada Kamis (27/11), masih menyisakan duka mendalam. Jumlah korban meninggal bertambah dan belasan orang masih hilang. Entah apa salah dan doso, disaat rumah dibersihkan dari lumpur, sedimen dan tumpukan kayu gelondong di jalan dan fasilitas umum, diangkat menggunakan alat berat
Hilangkan trauma dan bangkitkan semangat, terpuruk akibat bencana. ‘Malang tak dapek diraih, mujua tak dapek ditolak, datang lagi bencana banjir dan longsor, Rabu (10/12). Luka hati yang baru saja dirajut, terkoyak kembali. Semangat menyala, padam akibat bencana susulan. Hanya pasrah menemani derita dan air, sembari bertanya, apa salah dan dosa.
Jangan Salahkan Langit, Jika Kita Merusak Bumi
Hujan dan cuaca ekstrem, mengakibatkan banjir dan longsor, seakan menjadi alasan menutup kesalahan. Padahal, hujan membuka rahasia yang disembunyikan selama ini. Pemalakan, pengundulan, alih fungsi lahan semena mena, hilangnya daerah resapan, aliran sungai disempitkan, menjadi penyebab bencana terjadi
Ketika alam kehilangan keseimbangan. Saat, ‘ tangan tangan’ orang tak bertanggungjawab, bergerak ringan, membabat hutan. Ini bukan lagi takdir, tapi peringatan. Bencana ini, konsekwensi dari perbuatan manusia, membiarkan dan memalak hutan bertahun tahun. Hasil dinikmati segelintir orang, derita dialami banyak orang
Bencana yang terjadi, disebabkan, manusia yang rakus, merusak hutan. Ini semua ulah manusia dan air hanyalah pengingat paling jujur, bahwa alam memiliki batas kesabaran. Ingat, Tuhan tidak menurunkan bencana untuk menghukum. Tapi, manusia bisa menciptakan bencana karena rakus.’ Jangan salahkan langit, jika kita yang merusak bumi.’
Penulis
Novri Investigasi


