
Naik oto ka terminal
Tasabuik juo terminal Kiliran Jao
Sabana bedo tambang ilegal
Cando makan buah simalakamo
Rang Solok ndak ka Sawahlunto
Singgah lalu ka Danau Singkarak
Panambang rakyaik nan ka sansaro
Mafia tambang makin baserak
Pulau Angso duo di Pariaman
Jambatan Sitinurbaya di Muaro
Panambang rakyaik mancari makan
Mafia balinduang jo oknum mancari kayo
Pagaruyuang di Batusangka
Istano Rajo sajak dulunyo
Kok dipalapehan Bana
Banjir Jo longsor nan malendo
Bicara masalah tambang ilegal, tidak saja melibatkan penambang kecil atau kelompok kecil saja. Dibalik semuanya itu, terdapat jaringan mafia tambang yang mendapat dukungan oknum.yang memiliki kekuasaan dan pengaruh dalam sistim pemerintahan
Maka terjadilah, cando makan buah Simalakamo, terutama penambang tanpa izin. Mau dilarang, ada ratusan warga bergantung hidup dari tambang. Tak dilarang, mafia tambang ‘ikut’ bermain di gelanggang. Berladang dipunggung ‘penambang rakyat’ sering dilakukan demi mencari keuntungan.
Memakai istilah rakyat yang memanfaatkan tambang ilegal untuk ‘panyambuang hiduik’. ‘Daripado cakak jo kalang kalang, bia lah bacakak jo urang. Apalagi, tambang satu satunya sumber pencaharian. Menghidupi keluarga, meski resiko siap menghadang didepan mata
Beda dengan mafia, mengeruk isi perut bumi, mengerahkan puluhan alat berat, hutanpun dibabat. Demi mengamankan aktifitas, dibeking oknum aparat. Menjadikan tambang ilegal sumber kekayaan, tak perduli merambah hutan, mengeruk sungai, beresiko terhadap lingkungan.
Bahkan, seorang Andre Rosiade, Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar, anggota DPR RI yang terkenal vokal, dengan lantang mengatakan, tidak akan memberi ruang bagi cukong, mafia maupun oknum yang merusak lingkungan dan melanggar hukum.
Namun, ia memberi lampu hijau kepada warga, selagi menambang sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku. Tertitip juga pernyataan, sebaliknya, jika tidak sesuai aturan, tidak ada tambang ilegal yang boleh beroperasi di wilayah Sumatera Barat. Penegakan hukum, harus berjalan tegas dan adil tanpa pandang bulu
Tak Kunjung Usai, Meski Sering Dirazia
Kegiatan ilegal mining yang disebut operasi (PETI), makin menarik untuk ditelusuri. Bahkan, kegiatan ilegal mining itu, menghiasi berbagai media cetak, televisi, online maupun media sosial. Banyak sudah, ditindak lanjuti, namun ada juga yang beroperasi sampai kini
Entah apa yang terjadi, jeritan rakyat tak ada arti. Bencana sudah terjadi meluluhlantakan Ranah Minang ini. Korban nyawa, harta, benda dan mata pencaharian, seakan tak berarti dan tak membuat jera. Meski bersembunyi dan oknum mengetahui beroperasi lagi
Bahkan, tak terhentikan, operasional tetap jalan. Masih berlanjut, tanpa ada rasa takut. Berjalan, seperti biasa. Bukan berkurang, alat berat makin bertambah. Masyarakat mengeluh, malah menjerit. Tapi, jeritan tertahan tanpa ada yang mendengar.
Raungan alat berat eskavator, terus bergema memecah kesunyian. Kepada siapa lagi mengadu, semua terasa buntu. Nyanyian hati, seakan tak berarti.
Masyarakat berharap, pihak Kapolri benar-serius menindak masalah tambang dan semua kegiatan ini segera di tuntas kan. Raungan alat berat eskavator, sangat leluasa, seakan tidak ada takutnya. Manisnya lagi, Bahan Bakar Minyak (BBM) digunakan, pembelian dari solar subsidi.
Kegiatan ini sudah begitu lama terjadi di dalam. Pesan Burung seakan tak berarti. Bahkan, tak lagi terdengar merdu. Karena, hilang tertelan raungan eskavator. Sawah dan ladang tak lagi terjaga, akibat datangnya bencana. Rimbo tempat berlindung sudah dibabat habis. Entahlah, siapa yang salah. Bak makan buah Simalakamo
Penulis
Novri Investigasi


