
Sebelum sebuah laboratorium penelitian milik Amerika Serikat berhasil menciptakan program komputer yang digadang gadangkan menjadi teknologi yang lebih hebat dari mesin pencari Google
Program komputer bernama Artificial Intelligence (Ai) atau kecerdasan buatan, sebuah program komputer yang dirancang untuk meniru kemampuan manusia, menjadi seorang penulis dan seniman, sastrawan.
Dulu menjadi seniman, banyak persyaratan yang harus dilalui, proses yang dijalani. Rajiin membaca, perkaya perbendaharaan kata. Konsisten dan disiplin, sabar dan tekun. Sebab, menjadi penulis tak bisa instan, butuh waktu, usaha.
Menulis itu, ibarat sebuah pisau, makin diasah makin tajam. Punya imajinasi yang kuat, melakukan riset dan penelitian untuk mendapatkan informasi yang akurat. Bisa mengedit tulisan sendiri, memahami Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Sekarang, seiring perkembangan, persyaratan itu, seakan tak lagi dibutuhkan. Tak perlu proses, dalam waktu singkat bisa menjadi penulis dadakan.
Pekerjaan penulis dan sastrawan notabene pekerjaan manusia, sekarang sudah diambil alih Al. Dengan kecerdasannya, sudah dapat menyusun cerita sendiri sesuai dengan apa yang diinginkan
Kecerdasan Buatan Membunuh Penulis
Mengutip pernyataan Sam Altman, sosok yang mengawangi Open Al. Yayasan dan perusahaan yang menaungi Chan CPT, akal imitasi (Al) generatif yang membuat tren Al, menjadi arus utama seperti saat ini.
“I don,t see any evidence that Al is ‘killing writing’. Ini perlu dipertanyakan, benarkah Al tidak membunuh penulis. Sebab, menulis sebagai bentuk aktifitas, mungkin tidak terbunuh, tapi penulisnya yang terbunuh.
Dengan bantuan Al dan mengirim perintah, seperti membuat tulisan, cerita pendek atau bahasa sastra, dalam hitungan detik Al sudah bisa membuat tulisan sesuau dengan apa yang diperintahkan kepadanya.
Al dapat menyusun permintaan itu dengan sendirinya. Tak bisa dipungkiri, kehadiran Al, bisa melahirkan penulis dadakan, karena kehadirannya memudah pekerjaan manusia
Kata kata yang dipakai, merupakan kata kata umum yang sangat sering digunakan dan kita temui sehari hari. Sehingga, tulisan dan karya sastra hambar, tidak terasa sastra. Sebab, sastra identik dengan keindahan.
Tulisan ataupun sastra sangat mengedepankan perasaan dan robot tak memiliki perasaan. Al mungkin dapat meniru kecerdasan, tapi tidak bisa meniru kecerdasaan, perasaan dan kreatif manusia. (Bersambung)
penulis
Novri Investigasi


