
Catatan : Richard, Akb
Di ranah Minang terkenal dengan nagari yang suka dan ahli pepatah petitih berpantun, pidato, berkias/ kiyeh, dan yang sangat fenomenal ada istilah ” Buyuang Salamaik” / selamat ( Orang yang suka senang dan main aman/ menang saja, atau ndakmau disalahkan )..
Kiasan tersebut hampir tenggelam di ranah Minang dengan begitu lajunya perkembangan teknologi komunikasi (IT).
Tetapi perilaku tersebut setiap hari bisa dirasakan dan dilihat di tengah tengah masyarakat.
Banyak orang pintar ngomong, berpidato dan bercakap cakap. Semua hal dibahasnya, bahkan sampai ke hal hal yang “tasuruak”/ tersembunyi pun tak luput dari bahasan atau gosipannya.
Kini zaman informasi dan komunikasi, atau istilah kerennya era IT. Hampir tidak ada yang tertutup semuanya disampaikan. Baik masalah kenegaraan,.hukum, pemimpin, masalah pribadi dan hal hal sekecilpun tak luput dari perbincangan.
Begitu terbukanya saat ini dan semuanya jadi pembahasan setiap hari secara bebas.
Begitulah zaman sekarang, semua serba transparan dan selalu menjadi perbincangan hangat.
Ada yang disampaikan dengan logat yang berapi api, ngomong dengan lantang, keras, dan ada juga dengan gaya yang sederhana atau slow.
Semuanya tergantung dengan karakternya si manusia tersebut.
Karena begitu bebas dan terbukanya manusia kini ngomong dan bersikap, bahkan sampai diluar kontrol. Barangkali itu pulalah yang menyebabkan lahirnya KUHP baru
yang mengatur berbagai hal, termasuk “bicara”??.
Menurut agama setiap manusia itu adalah pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan kelak kepemimpinannya dihadapan sang qalik.
Pemimpin itu bisa di rumah tangga, di kantor, lembaga, negara, dan lainnya, serta termasuk pemimpin diri sendiri.
Banyak tiori yang menyebutkan berbagai gaya kepemimipinan.
Sebutlah ada gaya kepemimpinan demokratis, otoriter, komunis, militer, monarki, dan segala macamnya sesuai dengan yang dianut suatu negara negara di dunia.
Yang semua gaya kepemimpin itu tujuannya hanya satu, yaitu mempertahankan kekuasaan untuk mencapai tujuan lembaga yang dipimpinnya ( simpelnya).
Kesulitan menjadi pemimpin mungkin, juga hanya satu, yaitu.memutuskan/ mengambil sikap terhadap sesuatu.
Karena setiap keputusan yang diambil.pasti ada relefansinya/ ada resikonya.
Resikonya timbul rasa senang dan tidak senang dari suatu keputusan dari kepemimpinan tersebut. Dimanapun si manusia tersebut memimpin, termasuk menjadi pimpinan dirinya sendiri.
Sebagai pemimpin harus siap dengan resiko tersebut, disenangi dan tidak disenangi. Karena itu harus dilaluinya dan tidak bisa menyembunyikan diri dari apa yang sudah diputuskan walaupun pahit.
Kembali kepada judul artikel ini.
“Buyuang Salamaik/ Selamat” itu apa dan siapa?.
Buyuang selamat selalu diidentikkan dengan orang orang yang tidak bertanggungjawab, selalu bersikap dan berbuat tersembunyi, tidak muncul ke permukaan. Terutama terhadap hal hal yang dikatakannya itu berdampak negatif.
Buyuang Salamaik, orang yang tidak mau disalahkan dan selalu dianggap paling benar dari sikap/ apa yang diucapkannya walaupun dia salah.
Di ranah Minang istilah “Buyuang Salamaik” tersebut sangat kental sekali , selalu disebutkan bagi manusia yang tidak bertanggungjawab, tidak mau ambil resiko, selalu dianggap baik, padal sebaliknya.
Biasanya “buyuang Salamaik” ko selalu “manyuruak”/ bersembunyi di nan Tarang ?.


