
Antara politik dan sepakbola, tak bisa dipisahkan. Bagaikan dua sisi mata uang, saling membutuhkan. Sepakbola dijadikan arena politik, itu biasa. Banyak anggota dewan yang menjadi pengurus dan pemilik sepakbola. Politik di sepakbola itu, lumrah. Kadang orang politik, memanfaatkan sepakbola meningkatkan popularitas
Bahkan, untuk klub amatir, terutama klub plat merah, biasanya Ketua Umum langsung dijabat kepala daerah. Kalaupun pihak lain memegang jabatan Ketua Umum, kepala daerah pun memegang kendali. Sebab, klub amatir boleh menggunakan dana APBD. Nah, tentu peran kepala daerah sangat vital terhadap klub plat merah
Kekalahan di Pilkada
Kita peringkas cerita, biar tak mengambangkan kemana mana. Masuk ke pokok persoalan, cerita politik dan sepakbola. Kita ambil contoh, Kota Padang dan Kota Padang Panjang. Dua kepala daerah Fadly Amran dan Hendri Arnis. Apa hubungannya, ya ada. Cerita di ilhami, partai grand final Liga 4 PSSI Sumatera Barat, antara PSP Padang dan PSPP Padang Panjang
Laga yang berakhir dramatis dengan kemenangan PSP Padang 3 – 2 melalui injury time, juga pertarungan dua kepala daerah yang menyaksikan langsung di Stadion Utama Sumbar, Sikabu Kabupaten Padang Pariaman, Kamis (2/4). Kemenangan PSP Padang, juga kemenangan Fadly Amran Walikota Padang. Kekalahan PSPP Padang Panjang, juga kekalahan Hendri Arnis, Walikota Padang Panjang
Lalu, apa hubungan final dua klub plat merah itu dengan politik. Nah, ini pertanyaan menarik. Soalnya, Pilkada Kota Padang 2018 lalu, juga terjadi persaingan Fadly Amran dan Hendri Arnis untuk menjadi orang nomor satu di Kota Serambi Mekah itu. Ada empat calon yang maju dan Hendri Arnis sebagai petahana berpasangan Eko Furgani. Sementara, Fadly Amran sebagai penantang berpasangan Asrul
Dua pasangan lain, Mawardi berpasangan dengan Taufik Idris dan Rafdi M. Syarif berpasangan dengan Ahmad Fadly. Pasangan Fadly Amran dan Asrul mampu membungkam patahana Hendri Arnis dan Eko Furgani. Dengan kekalahan itu, Hendri Arnis menyerahkan singasananya kepada Fadly Amran. Kekalahan itu, menjadi kekalahan Hendri Anis di Pilkada Kota Padang Panjang
Kekalahan di Lapangan Bola
Pada Pilkada 2024, Fadly Amran tak melanjutkan Perjuangan di Serambi Mekah. Malah, ia melompat di Pilkada Kota Padang berpasangan dengan Maigus Nasir. Kembali ia menghadapi petahana Hendri Septa berpasangan dengan Hidayat. Pasangan lain, Muhammadi Igbal berpasangan dengan Amasrul. Fadly Amran dan pasangannya Maigus Nasir, sukses menyingkirkan petahana. Fadly Amran dan Maigus Nasir sekarang memimpin Kota Padang
Begitu juga Hendri Arnis, ia kembali mencoba peruntungan di Pilkada Kota Padang Panjang berpasangan dengan Allex Saputra. Ia pun sukses mengambil tahtanya kembali setelah ditinggal Fadly Amran. Dan, menyingkirkan Nasrul yang berpasangan dengan Eri dan Edwin berpasangan dengan Albert. Hendri Arnis dan pasangan Allex Putra sekarang memimpin Kota Padang Panjang
Singkat cerita, tahun 2026, Fadly Amran dan Hendri Arnis kembali bertemu di grand final Liga 4 PSSI Sumbar. Grand final mempertemukan PSP Padang dan PSPP Padang Panjang, juga mempertemukan Fadly Amran Walikota Padang dan Hendri Arnis Walikota Padang Padang. Laga dramatis itu, dimenangkan PSP Padang melalui injury time dengan skor 3 – 2. Kekalahan PSPP Padang Panjang, juga menjadi kekalahan Hendri Arnis dari Fadly Amran di lapangan bola
Penulis
Novri Investigasi


