
Babaluik salendang sarato jilbab
Jadi pakaian dek gadih Minang
Lah ribuik dek masalah adab
Caminan diri bagau jo urang
Kain katun baragi Bungo
Di bao urang pai baralek
Jan sampai tadorong kato
Ingek juo kato nan ampek
Sempat viral dan jadi perbincangan banyak urang. Kata ‘pakak’ yang dilontarkan BEM Unand terhadap kepala negara, menuai beragam tanggapan. Walau kata ‘pakak’ punya asumsi yang berbeda. Namun, dianggap tak sesuai etika
Dilihat makna, ‘pakak’ itu bisa berkonotasi, kurang pendengaran. Bisa juga dianggap bodoh. Namun, kita tak membahas panjang kata ‘pakak’ yang dibalas Andre Rosiade dan berujung pertemuan dengan BEM Unand. Tapi, kita fokus membahas masalah adab
Apa Itu Adab?
Adap itu, memiliki makna mendalam, baik segi sosial maupun spritual. Adab, merupakan cerminan perlakukan kita terhadap sesama, namun pada akhirnya kembali pada diri sendiri. Orang banyak pintar bicara masalah adab.
Sementara, kata dan perbuatannya tak sesuai dengan adab. Baginya, sudah biasa, merendahkan dan menghina orang lain. Tapi, saat ia direndahkan dan dihina, iapun mengatakan orang tak beradab. Ya, adab tak berlaku baginya, tapi berlaku bagi diri orang lain
Adab dan akhlak bak dua sisi mata uang. Adab sebagai cerminan diri. Sementara akhlak cerminan nyata dari kepribadian seseorang. Tujuannya sama, memperlakukan orang lain dengan baik
Singkat kata, adab dipraktikkan saat berinteraksi dengan orang lain, tetapi manfaat, kehormatan dan keberkahannya akan kembali kepada diri sendiri. Dan, adab itu lebih tinggi dari ilmu. Orang beradab pasti berilmu. Orang berilmu, belum pasti beradab
Adab ‘Kato Nan Ampek’
Kato Nan Ampek’ di Minangkabau, mengajarkan kita untuk menghormati orang lain. Terutama adab bicara terhadap orang lebih tua, lebih muda maupun ‘samo gadang’ ‘Indak samo data sawah jo pamatang. Tahu ereang Jo gendeang’
Lalu, apa saja kato nan ampek itu. Kata mendaki, tutur kata digunakan untuk berbicara dengan orang lebih tua atau memiliki status sosial yang lebih tinggi. Untuk kato mandaki, kata kata harus sopan, santun. Dan, menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara
Kata menurun, tutur kata digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih muda atau memiliki status sosial yang lebih rendah. Penyampaian kata, menggunakan bahasa yang lembut dan perhatian. Intinya, tunjukan rasa kasih sayang kepada lawan bicara
Kato Mandata, tutur kata yang digunakan untuk berbicara dengan orang yang sejajar ‘samo gadang’, status sosial yang sama maupun hubungan kekerabatan. Gunakan bahasa netral dan santun, rasa kesetaraan dengan lawan bicara
Selanjutnya, kato malereang, tutur kata berbicara dengan orang yang lebih muda atau memiliki status sosial yang lebih rendah. Namun, tujuannya untuk menegur atau mengingatkan. Beda dengan kato manurun, kato malereang gunakan bahasa tegas, keras tapi sopan dan santun
Namun, seiring perjalan waktu. Perlahan mulai terkikis, tergerus perkembangan zaman. Kata kasar, baik dalam bicara maupun mengkritik dianggap suatu hal yang wajar. Bahkan, terucap dari orang terpelajar, pejabat maupun penguasa. Lah hilang raso jo pareso. Kenapa ini terjadi, bagaimana juga adab dari sisi agama?
Penulis
Novri Investigasi


