
PESSEL, INVESTIGASI
Polemik bangunan di kawasan Mandeh, Pulau Cubadak, seharusnya menjadi alarm serius, bukan sekadar isu yang diredam dengan klarifikasi administratif.
‎
‎Publik tidak lupa bagaimana narasi awal disampaikan: bangunan tersebut diperkenalkan sebagai miniatur kelenteng untuk mendukung pariwisata. Namun ketika polemik menguat, narasi itu berubah—disebut sebagai kantor pribadi.
‎
‎Perubahan ini bukan hal kecil. Ini menyentuh inti persoalan: apakah publik sejak awal diberi informasi yang utuh, atau hanya sebagian?
‎
‎Dalam konteks pemerintahan, inkonsistensi bukan sekadar kesalahan komunikasi. Ia berpotensi menggerus hal yang paling penting: kepercayaan.
‎
‎Masyarakat tidak sedang mempermasalahkan bentuk bangunan semata. Mereka mempertanyakan mengapa sesuatu yang tampak jelas di mata publik harus dijelaskan berbeda di atas kertas.
‎
‎Jika sebuah bangunan memiliki bentuk dan simbol tertentu, tetapi dijelaskan dengan fungsi yang berbeda, maka wajar jika muncul pertanyaan:
‎apakah ini sekadar perbedaan persepsi, atau ada sesuatu yang tidak disampaikan sejak awal?
‎
‎Lebih jauh lagi, kita tidak bisa mengabaikan konteks daerah ini. Kabupaten Pesisir Selatan bukan ruang tanpa identitas. Daerah ini berdiri di atas adat yang kuat dan masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Maka setiap kebijakan, terlebih di kawasan strategis seperti Mandeh dan Pulau Cubadak, tidak cukup hanya sah secara administratif—tetapi juga harus jujur secara sosial.
‎
‎Masalah terbesar hari ini bukan pada bangunan itu sendiri, tetapi pada kesan yang muncul: ‎seolah-olah masyarakat hanya diberi penjelasan setelah mereka bereaksi.
‎Ini pola yang berbahaya. Transparansi tidak boleh datang setelah polemik. ‎Transparansi harus menjadi titik awal.
‎
‎Jika tidak, maka setiap kebijakan akan selalu diiringi kecurigaan. Dan ketika kecurigaan menjadi kebiasaan, maka kepercayaan akan menjadi sesuatu yang langka.
‎
‎Pemerintah perlu memahami satu hal:
‎masyarakat hari ini tidak hanya melihat apa yang dibangun, tetapi juga bagaimana kejujuran itu dijaga dalam prosesnya.
‎
‎Karena pada akhirnya, pembangunan tanpa kepercayaan bukan kemajuan, melainkan hanya perubahan yang dipertanyakan. HK


