
PADANG, INVESTIGASI_Hari Raya Idul Adha disebut juga Hari Raya Haji atau Hari Raya Kurban, menjadi kebahagian tersendiri bagi warga. Tidak saja warga miskin, juga warga yang punya kelebihan materi. Sebab,
bisa melaksanakan Ibadah Suci di Mekah maupun ibadah. Bagi warga kurang mampu bisa menikmati daging kurban
Khusus untuk pelaksanaan kurban di mesjid dan mushalla, juga punya cerita yang berbeda, terutama panitia. Karena, kalau salah pelaksanaan kata tak enak diterima. Tapi, kalau sukses tak ada pujian diterima
Namun, bagi panitia kurban, ada kepuasaan tersendiri, jika penyelenggaraan sukses dan tanpa celana. Inipun dirasakan Wendra, panitia kurban Mesjid Ikhwanul Muslimin RW 10 Pegambiran Permai
Ia pun berbagi pengalaman, sukses penyelenggaraan yang ia jalani selama 15 tahun. Untuk tahun ini, Mesjid Ikhwanul Muslimin RW 10 Pegambiran melaksanakan penyembelihan 13 ekor sapi.
Menariknya, sapi sebanyak itu, bisa diselesaikan sampai pukul 14.00 WIB dan pelaksanaan kurban mulai pukul 09.00 WIB. Begitu juga persoalan kulit yang sering menimbulkan kecurigaan, namun bisa disikapi.
“Kulit sapi sebelum disembelih di akadkab dulu kepada peserta. Dan, ditanyakan mau diapakan uang hasil penjualan kulit ini. Dan, hasil kesepakatan digunakan untuk anak yatim. Insya Allah, sudah 13 tahun ini dilakukan, tak ada riak maupun protes warga. Sebab, sebelum dilakukan terlebih dahulu di musyawarahkan,” kata Wendra
Ia juga menceritakan proses kurban dan penyembelihan sapi. Katanya, kaki sapi 4 x 13 = 52 disatukan terlebih dahulu. Selanjutnya, kepala sapi 13 di satukan sama kaki. Setelah itu, baru daging di potong potong dan dilakukan penimbangan, sama tukang dan isi perut.
“Selanjutnya,
semua bari kaki dibagikan ke sesepuh sesepuh di kampung. Begitu juga kepala juga pemberiannya di rumbukan. Ada juga dicencang diberikan untuk tim panitia, itupun dimusyawarah kan. Inilah yang menjadikan suasana korban penuh rasa kekeluargaan, tanpa riak yang terjadi,” katanya. Alwisray


