Catatan Emil Pribadi, S.IP :

Sungguh Beruntung Kota Padang yang dijuluki ” Kota Bingkuang” memiliki kawasan Pantai yang indah dan menakjubkan.
Orang Padang menyebutnya dengan tapi lawuik ( Taplau ) .
Sering terucap dari mulut warga, khususnya anak muda, yok wak jalan- jalan, atau jalan-jalan sore ke Taplau. kalimat yang populer yang selalu di sampaikan masnyarakat di Padang dan sekitarnya.
Sudah pasti Kota Bukit tinggi, Dharmasraya, Kota Solok dan daerah lainnya, tidak ada Pantai, tidak seberuntung Kota Padang, yang memiliki pantai yang Indah dan pengunjung yang luar biasa dari berbagai pelosok, baik lokal, maupun manca negara.
Kalau ditelusuri sejarah Pantai Padang berawal dari kawasan pesisir rawa-rawa dan permukiman nelayan tradisional.
Berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, lokasinya strategis, diapit muara Batang Arau dan Batang Kuranji sejak masa pra-kolonial telah menjadi titik penting jalur pelayaran dan perdagangan di Sumatra Barat.
Masa Kolonial Berperan sebagai area pertahanan dan pintu gerbang perdagangan maritim.
Masa kolonialisme adalah periode ketika suatu negara menguasai wilayah dan sumber daya bangsa lain untuk kepentingan ekonomi dan politik.
Di Indonesia, era ini didominasi oleh pendudukan Belanda yang berlangsung dari abad ke-17 melalui kongres dagang VOC hingga dibubarkan, lalu dilanjutkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda hingga runtuh pada Perang Dunia II.
Abad ke-16 Bangsa Portugis dan Spanyol tiba pertama kali untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah. Abad ke-17 – 18 (Masa VOC) Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
VOC memonopoli rempah-rempah, terutama di Kepulauan Maluku. Awal Abad ke-19 sempat dikuasai oleh Inggris di bawah pimpinan Thomas Stamford Raffles (1811–1816), kemudian diserahkan kembali kepada Belanda.
Abad ke-19 – 20 (Masa Hindia Belanda) periode eksploitasi sistematis, termasuk penerapan Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) dan kebijakan Politik Etis (Politik Balas Budi) pada awal abad ke-20 yang menjadi cikal bakal pendidikan modern di Nusantara.1942 – 1945.
Penjajahan Belanda terhenti akibat pendudukan Jepang dalam Perang Dunia II, yang memicu kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Pada era tahun 2000 an, Pemerintah Kota Padang mulai melakukan pembenahan serius, mengubah kawasan yang kurang tertata menjadi jalur lintas alternatif (Jalan Samudra).
Untuk menjaga kawasan yang indah tersebut, penegak peraturan daerah (Perda), Satuan Polisi Pamong Praja Padang terus Patroli dan menindak tegas para pedagang yang berjualan di sepanjang pinggiran pantai yang tidak menjaga ketertiban dan keindahan kawasan, serta melanggar aturan.
Untuk menjaga ketertiban dan keindahan pantai, diharapkan seluruh warga, khusunya yang berdomisili di sekitar pantai turut bersama menjaga K3, kebersihan, ketertiban dan keindahan kawasan, diharapkan pendapatan masyarakat pula.
akan meningkat . yang semakin “diserbu” oleh para pelancong.
Kini kawasan tersebut terkenal dengan wisata religi, karena didukung beberapa bangunan sarana ibadah yang sangat indah dan cantik, seperti untuk umat muslim dan non muslim. Yok ke pantai yang sudah semakin mentereng dan salah satu icon andalan wisata Padang dan Sumbar


