Oleh
Musfeptial

Kabut pagi masih menyelimuti Jorong Tapian Diaro, Nagari Sijunjung, ketika rombongan peneliti dan mahasiswa memasuki kawasan Surau Simaung.

Di balik bangunan kayu sederhana yang berdiri kokoh itu tersimpan jejak panjang sejarah intelektual Islam Minangkabau. Surau ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat pendidikan, pengembangan tarekat, dan penyimpanan manuskrip yang menjadi saksi perkembangan tradisi keilmuan selama lebih dari satu abad.

Surau Simaung dikenal sebagai surau yang dikembangkan oleh Syekh Malin Bayang atau Tuanku Malin Bayang, seorang ulama terkenal. Beliau menjadi tokoh penting dalam perkembangan Tarekat Syattariyah di wilayah Sijunjung di Sumatera Barat. Syekh Malin Bayang atau Tuanku Malin Bayang juga yang membangun surau sebagai pusat pembelajaran agama, pembinaan masyarakat, dan penyebaran ajaran tarekat.
Hingga kini makam beliau masih menjadi tujuan ziarah dari berbagai daerah di Sumatera. Di Surau ini tim di sambut hangat oleh penerus generasi keempat dari Tuanku Malin Bayang, yaitu Alfitmon Malin Bandaro yang bersuku Malayu
Berbeda dengan banyak lembaga pendidikan lainnya, kepemimpinan Surau Simaung diwariskan melalui sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau, yaitu kepada para kemenakan dalam garis keturunan ibu.
Sistem pewarisan ini menunjukkan bagaimana adat Minangkabau berpadu dengan tradisi keagamaan sehingga keberlangsungan surau tetap terjaga tanpa melepaskan prinsip-prinsip sosial masyarakat setempat. Para pewaris tidak hanya menjaga bangunan dan kompleks makam, tetapi juga memelihara koleksi manuskrip yang menjadi warisan intelektual surau.
Selain berfungsi sebagai pusat pendidikan Islam, Surau Simaung berkembang sebagai salah satu pusat Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Dari surau inilah berbagai ajaran tasawuf, fikih, tauhid, dan gramatika arab, martabat tujuh (Ruba’i Hamzah Fansuri dan Tanbih al- Masyi), hadis (70 golongan , mitigasi tradisional (takwil), nazam waraqat (kaidah hukum Islam) (Ahmad Taufik Hidayat, 2026 makalah).
Semua ilmu ini diajarkan kepada murid yang datang dari berbagai daerah
Tradisi tersebut tercermin dalam koleksi manuskrip yang masih tersimpan, mencakup 88 bundel naskah, 20.000 lembar dengan kandungan ilmu agama, sejarah, sastra, pengobatan tradisional, hingga doa-doa dan amalan tarekat.
Sebagian besar manuskrip telah didigitalisasi melalui program DREAMSEA sebagai upaya penyelamatan warisan budaya Nusantara. Suri merupakan lembaga yang konsen di manuskrip telah berperan besar dalam usaha ini. Selain itu, di Surau Simaung juga banyak anak-anak yang menimba ilmu pengetahuan keagamaan (sekolah pesantren).
Menariknya, di Surau Simaung anak-anak yang belajar di pesantern juga didaftarkan di Paket A, Paket B, dan Paket C sebagai penyetaraan dengan pendidikan umum.
Dalam rangka memperkuat penelitian mengenai manuskrip dan tradisi intelektual surau, sejak 1 Juli hingga 12 Juli 2026 dilaksanakan penelitian lapangan di Surau Simaung Sijunjung.
Penelitian ini melibatkan sepuluh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat,yang terdiri atas enam mahasiswa dari UIN Imam Bonjol, yaitu Rabiul Farra Tazkiyatu, Muhammad Hafidz Ar Rizki, Fauzi, Hesti Agustin, Abdul Hakim, Noor Ain Isnaini , tiga mahasiswa dari Universitas Andalas yaitu Dinda Yulia Putri, Asmaul Husna, dan Igla Mirosa dan Redo Sobirin dari UIN Syekh Jamil Jambek Bukittinggi.
Selama dua belas hari, para peserta melakukan dokumentasi manuskrip, observasi kompleks surau dan makam, wawancara dengan pewaris, serta pencatatan tradisi lisan yang masih hidup di tengah masyarakat. Kegiatan lapangan ini merupakan bagian dari kolaborasi antara Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, yang dinahkhodai oleh Kepala PR. Dr. Sastri Sunarti, Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), Universitas Andalas, dan UIN Imam Bonjol.
Adapun tenaga ahli yang mengampu kegiatan ini adalah Prof. Pramono, Ph.D,. Dr Fakhriati, Dr. Ahmad Taufik, Zulkarnaini Yani, M. Hum., Daratullaila Nasri, M.A., Mulyadi, M.Hum., Musfeptial, M.Hum, Novri Duino, M.Hum., dan Surya Selfika, S.Hum. Selain itu, kegiatan ini mendapat apresiasi dari Bapak Puji Basuki, S.P., M.MA., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung.
Bahkan menugasi dua pegawainya untuk mendamping kegiatan ini, yaitu Sepriadi dan Tasrial. Kegiatan ini bertujuan memperkuat dokumentasi, pelestarian, dan pemanfaatan warisan manuskrip Minangkabau melalui pendekatan filologi, sejarah, antropologi, dan tradisi lisan.
Selama penelitian, para mahasiswa tidak hanya mempelajari isi manuskrip, tetapi juga memahami ekosistem budaya yang melingkupinya. Kompleks makam ulama, tradisi ziarah, bangunan surau, sistem pewarisan, hingga cerita-cerita yang hidup di masyarakat menjadi satu kesatuan yang memperlihatkan bahwa manuskrip tidak pernah berdiri sendiri.
Naskah lahir, dibaca, disalin, dan diwariskan dalam ruang sosial yang dibentuk oleh surau sebagai pusat kehidupan intelektual masyarakat Minangkabau. Selain Ke Suaru Simaung, mereka juga mengunjungi Surau Syehk Yasin di Tanjunag Ampalu, dan Surau Calau.
Meneroka sehari di Surau Simaung Sijunjung memberikan pelajaran bahwa pelestarian manuskrip tidak cukup sampai dengan menyimpan atau mendigitalisasinya. Manuskrip harus dipahami bersama lingkungan budaya yang melahirkannya. Surau, makam ulama, tradisi tarekat, sistem pewarisan, dan ingatan kolektif masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari warisan tersebut.
Oleh karena itu, Surau Simaung layak dipandang sebagai laboratorium hidup bagi kajian filologi, sejarah Islam, antropologi dan sosial budaya, dan tradisi lisan, sekaligus sebagai warisan budaya Minangkabau yang memiliki nilai penting bagi generasi masa kini dan masa depan.


