
LIMA PULUH KOTA, INVESTIGASI – Dugaan adanya pengaturan proyek di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Limapuluh Kota kembali menjadi perhatian sejumlah kalangan. Beberapa pelaku usaha yang bergerak di bidang konstruksi mengaku mengeluhkan adanya dugaan pengondisian dalam penentuan pihak yang memperoleh pekerjaan proyek di dinas tersebut.
Suasana mencekam dan penuh kecurigaan menyelimuti ruang kerja Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan pada Senin siang, 27 Juli 2026.( HM ) menjadi pusat sorotan tajam para awak media yang mendatangi kantornya untuk mengonfirmasi serangkaian dugaan serius terkait pengondisian proyek serta ketidaksesuaian pelaksanaan kegiatan di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Lima Puluh Kota.
Di awal pertemuan, (HM) sempat berusaha tampil tenang dan berkilah dengan menyatakan bahwa seluruh program dan proyek yang berjalan di bawah naungan Dinas Pendidikan telah dilaksanakan sepenuhnya sesuai dengan koridor peraturan dan ketentuan yang berlaku. Namun, benteng kepercayaan dirinya seketika runtuh saat pertanyaan wartawan mulai menembus ranah paling krusial dan sensitif.
Ketika ditanya secara langsung mengenai mekanisme pengondisian proyek, dugaan praktik pungutan berupa komitmen fee sebesar 10 persen, hingga keterlibatan pihak tertinggi eksekutif—Bupati dalam mengatur dan mengondisikan kegiatan di dinasnya, raut wajah HM, berubah drastis. Pucat pasi dan dibalut ketakutan yang nyata, ia tampak kehilangan kemampuan untuk menjawab dengan jernih.
Pertanyaan bertubi-tubi kembali menghujam: “Apakah Bapak izinkan kami merekam, konfirmasi ini secara terbuka? Lalu apa dasar penentuan pemenang atau pihak ketiga dalam proyek ini? Apakah ada arahan khusus dari Bupati?” Terhadap rentetan pertanyaan tajam itu, (HM) hanya mampu mengeluarkan jawaban Tidak ada berkomitmen apapun. Hanya hubungan baik sama pihak ketiga, setelah itu terjadi komitmen.singkat, terbata-bata, dan penuh penyangkalan: “Tidak.”
Kecurigaan publik semakin beralasan kuat melihat sikapnya yang defensif dan panik. Ia berulang kali memohon dengan nada memelas agar para jurnalis tidak merekam pernyataannya. Wajahnya memerah padam, tubuhnya gemetar tak beraturan, dan ia sama sekali tidak mampu berdiri tegak dengan tenang di hadapan para pewarta yang menatapnya tajam.
Puncak dari kejanggalan ini terjadi saat awak media menekannya kembali mengenai rincian teknis proyek dan tolak ukur yang ia gunakan untuk memilih mitra kerja. Alih-alih memberikan penjelasan yang transparan, logis, dan memuaskan, (HM) justru memilih jalan pelarian. Ia memutuskan untuk memotong sesi tanya jawab secara sepihak dan bergegas melarikan diri keluar dari ruangan kantornya, meninggalkan segudang tanda tanya besar.
Secara keseluruhan, bahasa tubuh (HM) memancarkan sinyal ketakutan yang mendalam serta rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan persis seperti pelaku yang sedang berhadapan dengan akibat dari perbuatannya sendiri. Tatapan matanya liar, sesekali melotot namun lebih sering menghindari kontak mata, alisnya terangkat di tengah tanda kebingungan, sementara bibirnya terkatup rapat hingga tampak bergetar hebat. Ia kerap menunduk dan melirik kian kemari, seolah sedang menutupi fakta kelam yang tidak ingin diketahui oleh masyarakat luas dan publik. Rel


