
Basanda Kapa di Muaro
Di Palinggan urang badayuang sampan
Dima hati Indak ka ibo
Bancano manjadi tampek pancitraan
Manambang urang di Aia Bangih
Jalan batutuik nan jo pergoden
Sairing bancano jo Isak tangih
Disinan inyo mambuek konten
Memilukan, disaat air mata warga masih membasahi pipi. Tangisan langit tiada henti. Bencana datang silih berganti. Warga kedinginan, kehilangan tempat tinggal dan dievakusi. Seharusnya, kita bijak menyikapi situasi. Dengan mata dan hati melihat kondisi yang terjadi.
Kalau tak bisa meringankan beban, setidaknya mendoakan, agar saudara kita terdampak bencana, tabah menghadapi cobaan ini. Dan, badai bencana ini, cepat berlalu, sehingga warga segera menjalani aktifitas kembali. Walau harus merajut luka hati, akibat bencana ini
Memanfaatkan Keadaan Membuat Konten Pencitraan
Miris dan menyayat hati. Seakan kehilangan nurani terhadap musibah yang terjadi. Datang kelokasi bencana, bukan ikut larut dalam duka. Membantu dan meringankan beban warga terdampak bencana. Bukan bantuan dan makanan yang dibawa, tapi pengawal membawa kamera
Berlagak sibuk sana sini. Berbungkus meninjau lokasi, tangan menunjuk genangan air. Merendam air seakan peduli. Kamera mengikuti setiap langkah, mengabadikan setiap tingkah. Diharapkan kehadirannya membawa berkah, meringankan beban warga terkena musibah, malah makin parah
Ada yang lebih miris lagi, berenang digenangan air, membantu warga evakuasi. Menunjuk kiri kanan, bak menyelesaikan persoalanm Bekerja menggunakan jas hujan. Membuat orang heran, seharusnya mencari solusi, bukan berkeliling melihat lokasi Aksi heroik itu, dilakukan di depan kamera. Ya, luar biasa
Gunakan Jari dan Hati dengan Bijak
Tak ada aturan dilarang membuat konten di lokasi bencana. Pencitraan ditengah derita warga. Boleh boleh saja, karena momen sangat tepat, beraksi di lokasi bencana, peduli penderitaan warga. Tapi, jangan sekedar konten saja, ada bantuan dibawa dan kerja nyata membantu warga terdampak bencana
Sebab, membuat konten yang memanfaatkan penderitaan orang, tidak etis dan tidak manusiawi. Seharusnya, kita empati terhadap warga yang terimbas bencana. Bijaklah bermedia sosial. Bijaklah dengan jari dan hati. Janganlah biar jari, lebih cepat dari akal sehat. Jangan biar hati, melukai perasaan lain, demi sebuah konten
Penulis
Novri Investigasi


