
Hari ini Merah Putih kembali berkibar. Lagu kebangsaan kembali dinyanyikan. Upacara digelar di berbagai tempat. Spanduk ucapan kemerdekaan memenuhi jalan dan ruang publik.
Namun, izinkan kami berkata jujur kepada para pahlawan bangsa: tahun ini kami tidak merayakan kemerdekaan dengan antusias seperti tahun-tahun sebelumnya.
Bukan karena kami tidak mencintai negeri ini.
Bukan karena kami tidak menghargai pengorbanan para pahlawan.
Justru karena kami terlalu mencintai Indonesia, kami merasa malu kepada kalian.
Mohon maaf, Pahlawan Bangsaku.
Kalian dahulu berjuang dengan darah, air mata, bahkan mempertaruhkan nyawa demi sebuah cita-cita besar: Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Kalian mungkin tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari negeri yang kalian perjuangkan akan menghadapi persoalan yang begitu menyakitkan.
Kalian berperang melawan penjajah.
Kami hari ini harus berjuang melawan ketidakadilan.
Kalian mengorbankan harta dan jiwa untuk negara.
Kami hari ini menyaksikan uang negara yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat justru menjadi rebutan segelintir orang.
Pahlawanku, kami ingin tetap bangga mengibarkan Merah Putih. Tetapi terkadang hati kami bertanya: apakah merah dan putih itu masih benar-benar menjadi lambang keberanian dan kesucian, ketika sebagian penyelenggara negara justru mempertontonkan keserakahan dan penyalahgunaan kekuasaan?
Kami membayar pajak.
Kami bekerja.
Kami berusaha bertahan hidup di tengah harga kebutuhan yang terus menekan.
Ketika rakyat terlambat memenuhi kewajiban, negara mengejar dengan berbagai aturan dan sanksi. Tetapi ketika uang negara disalahgunakan, ketika korupsi terjadi, ketika kekuasaan dipakai untuk kepentingan pribadi dan kelompok, rakyat kembali hanya bisa bertanya: di mana keadilan?
Kami tidak sedang mengatakan bahwa semua aparat adalah buruk. Masih banyak polisi yang bekerja dengan hati, tentara yang setia kepada negara, jaksa yang menjunjung hukum, hakim yang menjaga keadilan, serta aparatur sipil yang bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Tetapi kami juga tidak boleh menutup mata.
Ketika kepercayaan publik terus dirusak oleh kasus-kasus korupsi, kolusi, penyalahgunaan jabatan dan ketidakadilan, yang terluka bukan hanya rakyat.
Yang terluka adalah kehormatan negara.
Pahlawanku…
Dulu kalian mungkin berteriak, “Merdeka atau mati!”
Hari ini rakyat tidak sedang mengangkat senjata. Rakyat hanya mengangkat suara.
Suara seorang ibu yang kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya.
Suara seorang ayah yang bekerja keras tetapi penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Suara anak muda yang memiliki pendidikan tetapi kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Suara masyarakat kecil yang merasa hukum terkadang begitu keras kepada mereka, tetapi terasa begitu lunak kepada mereka yang memiliki kekuasaan dan uang.
Apakah ini Indonesia yang kalian bayangkan?
Apakah kemerdekaan yang kalian perjuangkan hanya sekadar pergantian bendera dari penjajah menjadi bendera bangsa sendiri?
Tentu tidak.
Kemerdekaan seharusnya berarti rakyat terbebas dari ketakutan, kemiskinan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.
Kemerdekaan seharusnya membuat hukum berdiri tegak untuk semua orang.
Kemerdekaan seharusnya menjadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan kesempatan memperkaya diri.
Kemerdekaan seharusnya membuat pejabat takut kepada rakyat dan hukum, bukan membuat rakyat takut kepada pejabat.
Hari ini, di usia 81 tahun Indonesia merdeka, mungkin sebagian dari kami terlihat tidak terlalu bersemangat merayakan HUT RI.
Jangan salah mengartikan sikap itu.
Kami bukan membenci Indonesia.
Kami sedang kecewa kepada cara Indonesia dikelola.
Kami bukan ingin menghancurkan negeri ini.
Kami justru ingin menyelamatkannya.*
Kami bukan ingin membuang Merah Putih.
Kami ingin Merah Putih kembali menjadi simbol kejujuran, persatuan, keberanian dan keadilan.*
Pahlawanku…
Jangan marah kepada kami jika hari ini kami lebih banyak bertanya daripada bersorak.
Jangan kecewa jika sebagian rakyat lebih memilih merenung daripada berpesta.
Karena kami sedang mempertanyakan kepada diri sendiri:
Masih pantaskah kami menyebut diri sebagai bangsa yang merdeka jika korupsi semakin merajalela?
Masihkah hukum menjadi panglima jika keadilan dapat dipengaruhi oleh kekuasaan dan kepentingan?*
Masihkah negara ini milik rakyat jika kekayaan dan kekuasaan hanya dinikmati oleh segelintir orang?
Dan pertanyaan yang paling menyakitkan:
Masih pantaskah rakyat mempertahankan negeri ini jika negeri yang diperjuangkan dengan darah dan air mata justru dikuasai oleh mereka yang menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk merampok kekayaan negara?
Namun, kami akhirnya sadar.
Jawabannya bukan meninggalkan Indonesia.
Jawabannya bukan menghancurkan Indonesia.
Jawabannya adalah merebut kembali Indonesia melalui kesadaran, keberanian dan perjuangan konstitusional.
Melawan korupsi dengan kejujuran.
Melawan kesewenang-wenangan dengan keberanian.
Melawan kebodohan dengan pendidikan.
Melawan apatisme dengan kepedulian.
Dan melawan penyalahgunaan kekuasaan dengan hukum yang adil serta suara rakyat yang tidak pernah berhenti mengawasi.
Pahlawanku…
Kalian telah memberikan kami sebuah negeri.
Tugas kami bukan menyerahkannya kepada para pencuri.
Tugas kami adalah menjaganya.
Jika hari ini kami mengkritik pemerintah, itu bukan berarti kami membenci negara. Pemerintah bisa berganti, tetapi Indonesia harus tetap berdiri.
Jika hari ini kami marah terhadap korupsi, itu bukan berarti kami anti terhadap negara. Justru karena kami mencintai negara, kami tidak rela uang rakyat dicuri.
Jika hari ini kami menuntut keadilan, itu bukan karena kami ingin membuat kekacauan. Kami hanya ingin cita-cita kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat.
Maka pada HUT ke-81 Republik Indonesia ini, izinkan kamimenundukkan kepala.
Bukan hanya untuk mengenang jasa kalian.
Tetapi juga untuk meminta maaf.
Mohon maaf, Pahlawan Bangsaku.
Kami belum berhasil menjaga negeri yang kalian wariskan sebaik yang seharusnya.
Namun percayalah…
Perjuangan belum selesai.
Selama masih ada rakyat yang berani berkata benar, selama masih ada orang yang menolak korupsi, selama masih ada aparat yang menjaga integritas, selama masih ada anak bangsa yang mencintai negeri ini tanpa pamrih, maka harapan Indonesia belum mati.
Merah Putih akan tetap kami kibarkan.
Bukan untuk memuliakan penguasa.
Tetapi untuk menghormati para pahlawan.
Bukan untuk menutupi kesalahan.
Tetapi untuk mengingatkan bahwa negeri ini dibangun dengan darah dan air mata.
Dan bukan untuk mengatakan bahwa Indonesia sudah sempurna.
Melainkan untuk berjanji:
Indonesia harus menjadi lebih baik.
Karena negeri ini bukan milik presiden.
Bukan milik menteri.
Bukan milik polisi.
Bukan milik tentara.
Bukan milik jaksa.
Bukan milik hakim.
Bukan milik partai politik.
Indonesia adalah milik rakyat.
Dan kepada para pahlawan yang telah gugur, kami hanya ingin mengatakan satu hal:
Selamat Hari Kemerdekaan ke-81, Pahlawanku.
Mohon maaf jika hari ini kami belum mampu membuatmu tersenyum.
Tetapi kami berjanji, perjuangan untuk Indonesia yang jujur, adil dan bermartabat akan terus kami lanjutkan.
Merdeka!
Merdeka dari korupsi.
Merdeka dari kesewenang-wenangan.Merdeka dari ketidakadilan.
Dan pada akhirnya—
*Merdeka dalam arti yang sesungguhnya. *
Rama


