
Lubuk Lintah ba pasa pagi
Kampung Kalawi basimpang tigo
Antah apo nan tajadi
Porprov Sumbar masih tando tanyo
Rang Taruko ndak ka Anduring
Pai basamo tuo jo mudo
Katonyo alah soft lounching
Tapi baa kok mundur juo
Gunuang Sarik Pasa Ambacang
Namo kampung di Kecamatan Kuranji
Tadanga bisiak urang di galanggang
Porprov jan asa manjago gengsi
Bak Drama Korea, rangkaian cerita Porprov Sumbar, makin menarik untuk diikuti. Delapan tahun mati suri, 2026 bakal dihidupkan lagi, jalan berliku pun di lalui. Rencananya, Juni – Juli, tiba tiba gagal entah apa sebabnya. Namun, berbagai alasan pun mencuat mencari kambing hitam Porprov dimundurkan. Terkuak juga, nasalah klasik membisik. Hampir semua kabupaten/kota belum menganggarkan. Alasannya, APBD murni 2026 sudah ditutup
Ya, masuk akal, sehingga tidak menjadi perdebatan panjang. Kata sepakat terjalin dalam pertemuan kepala daerah bertajuk Rakor 28 Januari 2026 lalu. Porprov XVI, disetujui mundur 2 – 14 Oktober. Ya tak ada yang menolak, semua setuju. Pelaksanaan bergeser Bulan Oktober, tepatnya 2 – 14
Alur cerita duka berganti bahagia mengiringi Porprov XVI itu. Karena, hpelaksanaan sudah final. Palu di ketok, kesepakatan disegel. Soft soft lounching dilakukan tanggal 27 Agustus 2026 di Auditorium Gubernuran. Bahkan, sudah dipastikan dengan pertimbangan Oktober 2026. KUA – PPAS sudah selesai. APBD Perubahan target 30 September rampung
Gema Menyala, Masalah Baru Tiba
Pasca soft lounching, denyut Porprov mulai kencang, gemanya menyala di Ranah Minang. Pesta olahraga terbesar itu, akan diikuti 19 kabupaten/kota melalui skema tuan rumah bersama. 52 cabang akan diperlombakan mencapai 1.048 pertandingan.
8 tahun tak bergerak denyut nadi, tahun 2026 ini, satu tekat diusung. Mengembalikan Kompetisi, Memperkuat Pembinaan dan Menggerakkan Daerah’ Satu tujuan dicapai, melahirkan atlit yang akan membela Sumbar pada Porwil 2027 dan PON 2028. Sayang, semuanya itu terganggu lagi.
Riak muncul lagi, mengiringi persiapan. Rencana tak sesuai rencana, beberapa daerah minta diundur lagi. Alasan klasik kembali membisik masalah anggaran. Banyak daerah yang mengalokasikan dana Porprov di APBD. Diperparah lagi, proses birokrasi, berujung pencairan dana diperkirakan baru terealisir 1 Oktober.
Ya, hanya rentang satu hari, pembukaan yang digelar tanggal 2, tak mungkin dipaksakan. Kalau dipaksakan, berakhir permasalahan. Ini menjadi keluhan daerah yang terungkap dalam kesepakatan pada pertemuan 15 Ketua KONI di sebuah kafe Kawasan Lubuk Minturun, Kota Padang
Jangan Sekedar Menjaga Gengsi
Terlepas dari apa yang terjadi dan drama berseri mengiringi Porprov 2026 ini, pelaksanaan jangan sekedar jaga gengsi. Kalau sekedar, kemeriahan yang terselenggara selama 14, hanya menang di papan klasemen dan mengangkat trophi di podium.
Tak salah Ketua SC Prof. Syahrial mengatakan, Porprov harus menjadi kebangkitan olahraga, bukan pesta dua minggu lalu selesai. Gengsi sih boleh, tapi kalau 2028 kirim 100 atlit ke PON dengan membawa 2O medali, itu baru gengsi ada isi, bukan prestise demi jaga gensi
Meragukan lagi persiapan atlit menghadapi Porprov, masalah anggaran tentu menganggu persiapan mereka. Mengangkat medali, bukan akhir perjuangan, tapi roadmap ke PON 2028, menjadi tujuan Bonus kepada atlit, memang penting, tapi latihan berkelanjutan menuju PON 2028, tetap menjadi perhatian.
Biasanya, pesta usai, dana pembinaan terkuras habis, persiapan atlit terbengkalai. Ini perlu menjadi perhatian, jika ingin prestasi didaerah berlanjut ke tingkat nasional. Kalau tidak, target yang diusung untuk Porwil dan PON, sia sia. Sebab, jarak Porprov dengan Porwil dan PON, hitungan bulan.
Persiapan atlit hasil seleksi Porprov menjadi perhatian. Kalau ini tak dilakukan, percayalah “Minyak habih samba tak lamak” Porprov digelar dengan anggaran puluhan miliyar, hanya ajang menjaga gengsi, bukan mengukir prestasi. Jangan sampai terjadi
Penulis
Novri Investigasi


