
Riak mengiringi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ke XVI Sumbar, masih terasa. Gelombang pengunduran diri pun menyertai riak pekan olah raga dua tahunan itu. Masalah klasik terkendaa anggaran masih berisik, Keikut sertaab beberapa daerah juga terusik
Porprov Sumbar, bukan saja ajang prestasi, tapi pertarungan materi. Semakin besar daerah mengalokasikan anggaran untuk Porprov semakin besar peluang untuk juara umum. Mudah ditebak, Porprov ke XVI ini, Kota Padang, masih bertahan menjadi juara umum.
Bukan tanpa alasan, Rp38 Miliar anggaran sudah disediakan untuk dua kebutuhan. Rp15 M untuk kebutuhan sebagai tuan rumah 20 Cabor olahraga. Baik untuk venue, sarana prasarana, konsumsi, akomodasi panitia perangkat pertandingan
Dan Rp23 M dialokasikan untuk bonus bagi atlit meraih medali. Artinya, dengan alokasi super wah itu, juara umum tak akan berpindah tangan. Porprov tak lagi bersaing merebut juara umum, tapi mengejar sekeping medali, sesuai kemampuan dan alokasi anggaran
Percaya tak percaya, sebaiknya percaya saja. Daerah yang anggaran terbatas, disamping persiapan atlit yang terbatas juga, hanya mampu mengirimkan atlit untuk beberapa Cabor. Sehingga, semakin tipis berjuang memperebutkan medali
Anggaran Investasi Strategis Merah Medali
Sadar tak sadar, alokasi anggaran motor penggerak utama menentukan kualitas dan persiapan atlit. Termasuk menentukan banyaknya Cabor diikuti. Ibaratnya, anggaran tidak saja berfungsi sebagai biaya operasional, juga menjadi investigasi strategis untuk mengkonversi dana demi meraih medali emas
Kenapa besarnya alokasi anggaran berpengaruh terhadap prestasi daerah. Sebab, melalui anggaran itu, daerah bisa mempersiapkan atlit dengan matang. Baik itu persiapan, meningkatkan performa atlit secara ilmiah dan berkelanjutan
Fokus melaksanakan Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) dan membiayai Training Center (TC) jangka pendek. Uang saku atlit terpenuhi, menjadi suplemen bagi atlit berlatih serius. Tersedia uang try out menguji kemampuan atlit.
Semakin besar anggaran, semakin banyak cabang diikuti. Dan, pancingan bonus, membuat semangat atlit berlipat ganda. Lalu, bagaimana daerah minim anggaran. Ya, bak pepatah Minang. “Masak sajo nasi sabanyak Bareh” Bersambung
Penulis
Novri Investigasi


