
PADANG, INVESTIGASI_Tingginya curah hujan dan cuaca ekstrem, menganggu pekerjaan proyek. Apalagi, pekerjaan yang jauh dari keramaian, jalan sempit dan melintasi jurang. Ditambah lagi, jika tak profesionalnya rekanan dan kurangnya pengawasan
Berakibat pada keterlambatan pekerjaan dan tak sesuai harapan. Persoalan ini, diprediksi akan terjadi pada pekerjaan rehabilitasi jalan provinsi pada ruas jalan Matur – Palembayan, berlokasi di Kabupaten Agam
Pasalnya, proyek bernomor kontrak : 620/172/UPTD. WII III/TKD/2026, tanggal kontak 29 Juli 2026, disamping bekerja di lokasi yang berpencar dan banyak titik yang dikerjakan, juga dihadang resiko cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi
Wajar saja, proyek dikerjakan PT. Melayu Riau, konsultan supervisi PT. INDO DESAIN NUSANTARA, masa pelaksanaan 150 hari kalender, diprediksi tak tepat waktu dan mutu. Bukan, tanpa alasan, lokasi pekerjaan dan banyak titik dikerjakan menjadi kendala
Diperparah lagi, cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi, proyek milik Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR), menjadi tanggungjawab UPTD Wilayah III, nilai kontrak : Rp4.703. 439. 476, juga menjadi kendala menuntaskam pekerjaan
Inipun diyakini, Fadhlul Habis, DPD Laskar Anti Korupsi Indonesia (LAKI). Katanya, ada beberapa penyebab keterlambatan pekerjaan. Bahkan, diprediksi tak tepat waktu dan mutu. Baik itu, faktor cuaca, maupun banyak nya titik atau ruas pekerjaan.
“Proyek di lokasi mudah dijangkau, dekat dari keramaian dan satu lokasi diragukan selesai tepat waktu. Apalagi, ini berada di lokasi yang jauh dari keramaian dan dikerjakan dibeberapa titik,” katanya, seraya mengatakan, material didatangkan juga diragukan izinnya.
Sayang, pihak yang terkait pekerjaan ini, enggan mengomentari. Bahkan, sudah seminggu juga tak ditanggapi. Sepertinya, Feby Kepala UPTD III lebih memilih jurus bungkam.
Penulis
Novri Investigasi


