
Catatan Ringan : Emil Pribadi S.IP
Awal Lebaran tahun 2026 (1447 H) ditandai dengan perbedaan hari raya antara Muhammadiyah (Jumat, 20 Maret 2026) dan Pemerintah/NU (Sabtu, 21 Maret 2026). Perbedaan ini disebabkan oleh penggunaan metode Kalender Hijriah Global Tunggal oleh Muhammadiyah, sedangkan pemerintah menggunakan kriteria MABIMS (ketinggian hilal 3 derajat).
Waktu Idul Fitri Tahun 2026 terjadi perbedaan (tidak serentak), sementara beberapa tahun sebelumnya cenderung serentak. Ini adalah perbedaan ke-6 dalam 25 tahun terakhir (2001-2026).
Penentuan: Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki dengan pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (rujukan hilal global), sedangkan Pemerintah/NU tetap menggunakan metode Rukyatul Hilal dan hisab dengan kriteria MABIMS (lokal).
Posisi Hilal: Pada sidang isbat, hilal dilaporkan belum memenuhi kriteria 3 derajat, sehingga puasa digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari menurut pemerintah.
Dari kondisi sosial, meskipun berbeda, semangat toleransi ditekankan untuk menghormati dua hari raya yang berbeda, yang merupakan hal wajar dalam keberagaman metode hitung di Indonesia.
Perbedaan ini sering terjadi saat posisi hilal berada di zona kritis atau “bawah 3 derajat” menurut kriteria MABIMS.
Menyikapi perbedaan waktu Lebaran 2026/1447 H, menjaga kedewasaan, toleransi, dan persatuan.
Perbedaan tersebut harus disikapi secara bijak.
Antara lain kedepankan Tasamuh (Toleransi): Menghormati keputusan masing-masing pihak karena baik metode hisab (Muhammadiyah) maupun rukyat/Sidang Isbat (pemerintah) memiliki argumen ilmiah dan syar’i yang kuat.
Hindari Saling Menyalahkan, maksudnya perbedaan penetapan hari raya adalah keniscayaan dan pernah terjadi berulang kali. Hindari perdebatan atau politisasi yang dapat memperkeruh suasana.
Berikutnya utamakan Persaudaraan. Yaitu Menjadikan perbedaan sebagai momentum untuk meningkatkan kedewasaan dalam beragama, bukan untuk memecah belah kebersamaan.
Umat Tetap Rukun, yaitu, perbedaan hari raya tidak mengurangi esensi Idul Fitri. Umat Muslim diimbau tetap rukun meskipun merayakan Lebaran di hari yang berbeda.
Diharapkan Bijak dalam Shalat Id, yaitu pemerintah mengimbau warga untuk bijak dalam mengatur pelaksanaan shalat Idul Fitri sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Perbedaan ini disebabkan oleh penggunaan metode penentuan awal bulan Hijriah yang berbeda, sehingga hal ini sebaiknya disikapi dengan bijak dan penuh kedewasaan.


