
Catatan : Richard, Akb
Baik dalam suasana lebaran maupun hari hari biasa, jalan tol yang dibangun dengan dana triliunan tersebut sepertinya mubazir atau tidak termanfaatkan secara makismal
Mubazir nya atau tidak termanfaatkan secara maksimal, karena tol sepi dari kendaraan yang lalu lalang di dua jalur ruas jalan tersebut, yang memanjang sekitar 35 kilo meter.
Padahal pokok pokok pikiran pembangunan jalan tol tersebut adalah untuk memperlancar arus lalu dari arah Kota Padang menuju arah Padang Panjang, Bukittinggi dan sebaliknya.
Jalan yang ada di kawasan lama tersebut terlihat sangat padat dengan kendaraan, apalagi pada jam jam sibuk, seperti hari libur, besar, lebaran dan sebagainya.
Bisa bisa arus lalu lintas Padang Sicincin, terus ke Padang panjang, Bukittinggi padat merayap.
Bila diamati dengan kasat mata, mungkin hanya pada jam jam tertentu kendaraan yang lewat di tol dan tidak mencapai puluhan, hanya, bisa dihitung jari saja ?.
Jalan tol tersebut terlihat sangat megah dengan kontruksi yang andal.
Bahkan pada siang hari terlihat pemandangan yang cukup aduhai di kiri kanan jalan, dengan bentangan areal.persawahan,/ kebun yang sangat luas.
Dari cerita mulut ke mulut apa yang membuat sepi dari kendaraan melalui tol antara lain.
Alasan yang pertama, masyarakat lebih senang manfaatkan jalan lama, karena jarak tempuhnya tidak terlalu panjang dan masih lancar lancar saja.
Kedua, tarif tol Rp50.500 dinilai terlalu mahal, meskipun bisa mengurangi perjalanan menuju Padang Panjang dan Bukittingi sekitar satu jam atau lebih. Selain itu perjalanan sangat lancar tanpa ada hambatan yang berarti.
Apakah masyarakat Sumbar lebih suka memanfaatkan jalan lama, atau terlalu pelit merogoh kantong untuk melewati kawasan tol tersebut.
Uang Rp50.500 tersebut kalau dihitung hitung memang bisa untuk mendapatkan lima liter pertalik/ BBM. Setidaknya bisa untuk 50 Km atau 60 km jarak tempuh/ perjalanan.
Apakah karena hitung hitungan ini pula yang menyebabkan pengendara kendaraan roda empat enggan melewati jalan tol ,,?.
Untuk pastinya memang perlu sebuah kajian mendalam dari pihak terkait .
Karena masih sepi dan minimnya peminat melewati jalan tol Padang Sicincin, apakah perlu pemikiran oleh yang pihak yang berkepentingan untuk ” menggratiskan ” saja pemakaian jalan tol tersebut , Atau ticket masuknya dikorting 50 persen menjelang masyarakat terbiasa dengan perbayar di tol.??.
Sehingga eksistensi TOL, jalan lintas cepat tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh rakyat.
Tidakkah setiap pembangunan tersebut untuk kesenangan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat??..


