
Memang beda level, tapi sama nasib. Sama sama puasa gelar. Bukan waktu pendek, lebih dari 30 tahun. Ibaratnya, 7 kali Pemilu dan Pilpres. Kok lama banget, ya begitulah ‘kutukan puasa’ gelar dalam waktu yang panjang. Bahkan, teramat panjang
Bedanya, Timnas sepakbola Indonesia ‘lepas Kutukan, lepas puasa gelar level senior. 35 tahun, sejak terakhir meraih medali emas Sea Games tahun 1991. Sukses tumbangkan musuh bebuyutan Thailand di laga puncak melalui pertarungan dramatis yang berakhir dengan adu finalti,
Kemenangan melalui drama adil finalti itu, Timnas angkat trofi perdana di ajang FIFA Asean Cup edisi tahun 2026. Tapi, tak diraih dengan mudah, bahkan susah payah, meski penonton sempat parah, Timnas akan kalah. Pada babak perpanjangan waktu, meski hanya 10 pemain, Thailand sempat unggul 2 – 1
Gemuruh dan sorak penonton, membanjiri Stadion Utama Gelora Bung Karno, sempat berhenti. Detak jantung tak lagi bergetar, suara hilang dalam kepiluan, melihat tim kesayangan di ujung tanduk. Semangat membara pemain, akhirnya penonton merasa lega, Indonesia mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Alhasil kemenangan ditentukan melalui adu finalti. Indonesia beruntung memiliki kiper kelas dunia yang berkiprah di Seri A Liga Italia Emil Audero. Ia sukses menahan bola penendang ke empat Thailand Nattopang Sayriya. Sorak dan gemuruh penonton bergema, stadion serasa mau pecah. Indonesia menang, Indonesia juara. Puasa gelar berakhir, mimpipun menjadi kenyataan
Mampukah Kota Padang, Akhiri Puasa Medali Emas 39 Tahun
Beralih kita ke sepakbola Kota Padang diajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumbar. Sudah 39 tahun tak pernah merasakan medali emas cabor paling bergengsi itu. Padahal, Kota Padang, gudangnya atlit sepakbola.
Nama PSP Padang melegenda. Namun, medali emas terasa mahal. Menjadi pertanyaan, akankah puasa gelar terus berlanjut atau dahaga gelar berakhir pada Porprov 2026 ini.
Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Mastilizal Aye, SH, Ketua PSSI Padang. Marwah sepakbola berada dalam genggamannya. Sekaligus membuktikan diri, kinerjanya membangkitkan kompetisi lama mati suri, semakin manis sukses memutus rantai kegagalan selama 39 tahun
Diakui, ada tugas berat menuju impian, disebabkan regulasi usia pemain U-19 dan berstatus amatir. Bukan tanpa tujuan, tapi berjenjang dan berkelanjutan untuk persiapan Porwil 2027, usia pemain 20 tahun dan PON 2028 usia pemain 21 tahun.
Bukan menjadi alasan untuk melanjutkan puasa gelar, tapi menjadi cambuk dan tantangan, untuk mewujudkan impian yang hilang selama 39 tahun. Ingat, juara umum Porprov tak akan berarti, tanpa disertai medali emas sepakbola. Ya, ibarat sayur tanpa garam
Penulis
Novri Investigasi


