
Senyummu melukai hatiku
Tatapanmu menusuk jantungku
Kata katamu mengores perasaanku
Balihomu bahagia diatas penderitaanku
Demi mengejar kekuasaan
Kau tancapkan paku tanpa perasaan
Kau gantungkan harapan, diriku kau korbankan
Begitu pedih derita kurasakan
Hanya, karena pesta demokrasi
Kau tega mengorbankan kami
Kita sama sama Ciptaan Illahi
Cobalah saling menghargai
Masih ada tempat nyaman untukmu
Tebar pesona mengejar impian
Tanpa harus saling menganggu
Melukaiku dan merusak pemandangan
Pemilihan Legislatif ( Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres), telah usai. Masih terasa gebyarnya dan bentangan baliho Caleg, Capres yang bergantungan disudut negeri. Menghiasi pohon, tiang listrik, telepon dan fasilitas umumnya. Selang tak berapa lama, disambut Pilkada Serentak 2024. Meski, tak se gebyar Pileg dan Pilpres, namun tebar pesona tak kalah maraknya.
Kebiasaan memanfaatkan pohon, tiang listrik, telepon dan fasilitasnya, masih berjalan, meski bertabur kritikan. Entah kenapa, kritikan dan caci maki warga netizen, dianggap angin lalu saja. Tebar pesona, melalui baliho, tetap bertebaran dimana mana. Dibilang tak tahu aturan, pasti tahu aturan. Tapi, tetap nekat melakukannya
Baliho Cakada, masih terlihat bergantungan bebas di pohon, tiang listrik, pagar warga dan fasilitas umum. Poto dan motto berkedok sosialiasi dan promosi diri, seakan bebas, tanpa ada pengawasan. Sadis, pohon jadi korban, paku ditancapkan disepanjang taman jalan. Jelas ini, merusak tanaman, pohon dan lingkungan.
Memang tak ada larangan tebar pesona. Jual program melalui kata kata. Tak ada larangan sosialisasi melalui baliho, spanduk, banner. Silahkan, pasang APK (Alat Peraga Kampanye), tapi harus sesuai aturan dan tetap menjaga lingkungan. Seyogyanya, dalam memasang baliho, mengedepankan etika dan estetika
Sebagai seorang pemimpin dan calon penguasa, selayaknya memberi contoh dan tauladan kepada warga. Termasuk tertib baliho. Tapi, kalau kita sudah memberikan contoh yang salah, akan berujung masalah. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Pemimpin melabrak aturan, warga pun tak taat aturan. Saatnya, kita kedepan adab dan etika, bukan nafsu berkuasa belaka
Penulis
Novri Investigasi


