
Roboh, hancur, berantakan. Itu yang terjadi pada kapal tundo yang sering juga disebut kapal Datuk Maringgih. Terasa menyayat hati, luluh lantakan perasaan. Kenapa tidak, kapal bagian dari item proyek peningkatan kawasan kumuh Batang Arau senilai Rp25 M, punya makna mendalam
Bukan sekedar proyek saja, bukan pemanis destinasi wisata, tapi simbol mata pencaharian warga setempat. Saat pekerjaan proyek itu, ada permintaan agar kapal tundo itu diletakkan di daratan. Sebab, ada momen yang perlu dibanggakan, terkait mata pencaharian warga Batang Arau
Goresan Sejarah
Dilihat dari depan, masih terlihat utuh, tapi dilihat dari belakang, sudah runtuh. Berkeping keping, bak dihantam badai dan gelombang. Tumpukan material masih berserakan. Kusam dan kusut masai, menyertai lokasi kapal Datuk Maringgih itu. Sungguh memilukan, melihat langsung reruntuhan kapal yang punya nilai sejarah itu
Tentu banyak yang bertanya, kenapa kapal itu diletakan didarat. Bukankah, selama ini kapal bersandar di dermaga Muaro Padang. Alasannya, di Batang Arau itu, ada nama empat kampung. Dan, kampung itu, warganya bermata pencaharian sebagai nelayan.
Diantaranya, Seberang Palinggam, Kampung Teleng, Kampung Batu, Penggalangan dan Pebayan. Setiap nama itu punya sejarah. Sedangkan, kapal dinaikan di Kampung Penggalangan, sebab dulunya tempat galangan kapal. Itupun sudah melalui kesepakatan.
Ada juga yang bertanya, kenapa harus kapal tundo. Tujuannya, untuk mengingatkan, mata pencaharian warga dari kapal tundo itu. Sekarang kapal tundo, bukti sejarah itu, sudah hancur berantakan. Kalau dibiarkan, bakal hilang sejarah itu dari peredaran
Penulis : Novri Investigasi


