
Lagu banamo Ratok Pasaman
Tuo mudo nan manyanyikan
Tasabuik juo pejuang kemanusiaan
Indak arok pujian jo panghargaan
Lagu banamo Kutang Barendo
Dinyanyian urang ditampek pesta
Tibo katiko bancano malando
Bakaro sunyi mambantu warga
Pencitraan, pujian dan penghargaan, sanjungan yang diharapkan banyak orang. Bertepuk dada, membanggakan diri, semua berkat saya, itu yang terjadi sekarang ini. Datang kelapangan ataupun lokasi bencana, berteman sorotan kamera. Seakan membanggakan diri, ia sangat peduli warga yang tertimpa bencana
Ah, basa basi, tak tulus dan membantu dari hati. Sungguh ironi, setiap langkah harus dihargai, setiap perjuangan mendapat apresiasi. Bekerja ditengah sorotan kamera, biar viral dan menyala. Ingin menyematkan diri tokoh yang sangat peduli dengan penderitaan warga
Sosok Menginspirasi
Bukan memuji, tapi itu yang terjadi. Bekerja sunyi, seiring niat suci tanpa berharap pujian dan penghargaan. Tak mengenal waktu dan tempat, bencana datang, tak diundang langsung terjun kelapangan. Sungguh sosok menginspirasi, ditengah hiruk pikuk pencitraan berharap pujian.
Kisah ini, mengiringi langkah Zulkifli, seorang aktivis kemanusiaan senior di Kota Padang. Pendiri Forum Kemanusian Sumbar Bersatu (KSB), Forum Pengurangan Resiko Bencana (F-PRB) Kota Padang dan Komunitas Peduli Bencana (KPB), bekerja sunyi. Bahkan, sudah bertahun tahun dijalani
Tanya Pada Diri Sendiri Apa yang Telah Kita Perbuat
Tanyalah pada dirimu, apa yang telah kamu berikan pada negerimu. Dan, jangan kamu tanya, apa yang telah diberikan negerimu padamu. Kata bijak yang dipopulerkan mantan Presiden Amerika Serikat, Jhon Kennedi, sentuhan kalimat mendalam bagi Zulkifli. Tapi, kata bijak itu, jauh dari harapan.
Karena, apapun yang dilakukan hanya berbalut pencitraan. Tak tulus, melihat atau membawa jiwa jiwa yang sekarat. Mempertaruhkan nyawa diderasnya air, menghadang raga menembus hutan pasca longsor, tak mengenal rasa takut, ketika mengangkat mayat tanpa APD. Semua yang dilakukan, sunyi dari perbincangan. Jauh dari pujian, apalagi penghargaan
Penghargaan Tak Bermakna
Wajar ia menyimpan kekecewaan ditengah bertaburnya penghargaan. Warga Kehormatan Bidang Kemanusiaan’. Hanya sebuah penghargaan dari orang orang yang minim perbuatan. Tak mencerminkan perjuangan dilapangan. Ada ketimbangan dan faktor kedekatan memberikan penghargaan. Terasa tak bermakna, sebab diberikan kepada orang yang sibuk pencitraan.
Padahal, masih banyak yang layak menerima. Mereka yang punya jiwa jiwa berani, bekerja sunyi, panggilan hati. Tak berharap tepuk tangan, sorotan kamera memviralkan. Ia melihat penghargaan yang diberikan itu, hanya fatamorgana dan tak tepat sasaran. Tak bermakna, tak bernyawa, terkesan seremonial saja.
Bagi Zulkifli, kemanusiaan itu, punya makna yang sakral. Ini bukan soal seragam, pangkat, tapi tentang ketulusan hati. Keberanian untuk peduli ditengah bencana terjadi. Bergerak sunyi membantu warga, ketika yang lain sibuk dengan diri sendiri. Memilih bertindak tak berharap dipuji. Tak perlu disorot kamera, terpenting kerja nyata.
Penulis
Novri Investigasi



Me encanta gratogana, sigan asà — ¡contenido genial!
gratogana