
Sore udara cerah, cuaca bersahabat menemani aktifitas warga menunggu magrib. Di Batu Busuk, lokasi yang paling parah, terdampak banjir bandang beberapa bulan lalu, suasana tak lagi mencekam. Wajah cerah warga dipinggir sungai menemani sore nan indah
Gemercik suara air bergema syahdu diantara tumpukan batu yang menjadi dinding pembatas mengalir menuju muara. Namun, diantara jernih air, pandangan mata terganggu, saat tertuju pada bronjong yang tak lagi tersusun rapi. Terlihat berantakan, goyang, seakan tak kuat menahan beban
Bronjong penanganan bantaran sungai pasca bencana untuk mencegah pengikisan tebing sungai yang semakin parah saat curah hujan tinggi dan melindungi kawasan permukiman, kondisinya sangat memprihatinkan. Bahkan, sudah ada yang putus, terlihat batu keluar berserakan
Bronjong Campuran
Dibalik Bronjong yang putus, goyang dan berantakan itu, ada tanda tanya berselimut di hati warga. Bronjong yang terpasang tak sama atau berbeda. Ada bronjong yang rapi dan ada bronjong tak beraturan. Ya, boleh dikatakan, pekerjaan bronjong itu, seakan menyatu bronjong rakitan dan bronjong pabrikasi.
Bahkan, kawat belum dirakit juga berserakan di lokasi. Beda Bronjong rakitan dan pabrikasi terlihat jelas. Bronjong pabrikasi secara fisik memiliki bentuk anyaman yang rapi dan konsisten. Diproduksi dipabrik menggunakan mesin. Biasanya memiliki tanda SNI, tanda merek dan sertifikasi, baik ISO maupun SNI.
Sedangkan Bronjong rakitan atau manual (handmade), anyaman lebih renggang dan kekuatannya diragukan. Sebab, dikerjakan secara manual oleh tenaga manusia. Tidak memiliki sertifikasi standar kekuatan dan anyaman. Diprediksi bronjong yang putus itu, rakitan atau manual. Ini juga terlihat masih berserakan kawat yang belum dirakit atau dianyam dilokasi
Warga Dihantui Kecemasan
Bronjong yang berfungsi melindungi permukiman dan rumah yang masih bertahan di lokasi bencana itu, menghantui warga. Mereka cemas, melihat bronjong yang tak kuat menahan beban. Apalagi, sudah ada yang putus dan berantakan. Kecemasan itu wajar, jika terjadi banjir bandang susulan, rumah mereka yang menjadi korban.
Penulis
Novri Investigasi


