
Taisak tangih di malam buto
Hujan turun sairiang aia mato
Tampek bataduah kinilah rato
Sawah sarato ladang nan taniayo
Gunuang Nago jo Batang Kuranji
Aianyo janiah tapian mandi
Banjir longsor kini malendo
Aia gadang marangguik nyao
Oh Tuhan Nan kuaso
Batanyo juo ka bakeh diri
Apo bana doso denai ko
Mako mangamuak Batang Kuranji
Kama kini badan batenggang
Co iko bana musibah datang
Dek rimbo gadang nan ditabang
Bancano tibo kini dihadang
Batang Kuranji, merupakan sungai yang melintasi Kota Padang di Provinsi Sumatera Barat. Batang Kuranji ini, berhulu pada daerah pegunungan di sekita Bukit Barisan yang juga masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat antara Kabupaten Solok dengan Kota Padang. Bermuara ke Pesisir Barat Sumatera di wilayah perairan
Batang Kuranji, aianya jernih, tepian mandi. Riaknya tenang gemercik air terdengar merdu. Terasa indah dipandang mata, menyaksikan air mengalir diantara bebatuan besar sebagai menyangga. Batang Kuranji, juga menjadi sumber kehidupan bagi warga. Mengambil batu dan pasir secara manual tanpa alat berat.
Ketek Dibao Baiyo, Gadang Malendo
Jernihnya air Batang Kuranji, ketika air mengalir tenang, berdampak luar terhadap warga, terutama yang berada di hulu sungai. Ketenangan dirasakan, mendengar gemercik air, bagaikan musik mengalun syahdu. Tapi, menimbulkan keresahan dan bencana saat airnya besar. Banjir, memporak porandakan semua yang ada
Hujan deras tak kunjung henti yang terjadi beberapa hari lalu, menjadi petaka menyesakkan dada dan menguras air mata. Kondisi topografi Batang Kuranji yang terhubung dengan kawasan perbukitan, kian mencekam jika hujan tak henti hentinya membasahi bumi. Banjir, longsor mengakibatkan terjadinya bencana. Bahkan, petaka luar biasa
Banjir sekarang ini, diperparah lagi, bukan saja luapan air menghantam pemukiman, tapi ribuan kubik kayu gelondong, ikut memporak porandakan semua yang ada. Sawah dan ladang jadi rata, rumah dan pemukiman, hanyut dan tertimbun sedimen. Bahkan, tumpukan kayu gelondongan memperparah derita dialami warga
Menyisakan Duka
Banjir dan longsor, menyisakan duka bagi warga. Ulah tangan orang tak bertanggungjawab, memperparah derita. Pemalakan dan penebangan kayu secara liar, menghancurkan semua yang ada. Warga kehilangan tempat tinggal, kehilangan mata pencaharian, terputusnya akses perekonomian
Fasilitas umum, jembatan dan jalan, rusak, tak lagi bisa dimanfaatkan. Bahkan, pasca banjir dan longsor, bukan membuat warga tenang, tapi berpikir dan bekerja keras mengatasi keadaan. Bagi, warga yang dievakuasi, rumah tak ada lagi tempat berteduh. Sawah dan ladang hancur, kemana lagi bergantung hidup.
Rumah dan warung tertimbun sedimen dan kayu, harus bekerja keras membersihkan. Derita tak henti dilalui. Tak tahu lagi, apa dikata. Tak tahu lagi, mengadu kemana. Hanya berpasrah diri kepada Sang Pencipta. Semoga musibah ini, cepat berlalu. Sehingga warga, bisa menata kembali kehidupan pasca bencana yang membawa duka mendalam dan menguras air mata
Penulis Novri Investigasi


