
Waktu yang panjang untuk membangun stadion. Lebih dua kali pemilu, dua kali pergantian kepada daerah. Bahkan, sudah lima kepala dinas menjabat, pembangunan stadion terus tersendat. Parahnya lagi, sudah digemakan gerak cepat, pekerjaan stadion tetap terhambat.
2014 mulai dibangun, hingga 2026 ini, tak ada tampak pergerakan mempercepat pekerjaan. 12 tahun, bukan waktu singkat, kenyataan tak kunjung dipercepat. Padahal, berbagai komentar menyejukkan seiring pembangunan Stadion Utama Sumbar di Sikabu, Kabupaten Padang Pariaman
Icon Sumbar, lapangan sepakbola bertaraf nasional, menjadi alasan di bangunnya stadion di Sikabu, Kabupaten Padang Pariaman. Hanya tinggal cerita, kebanggaan tak sesuai fakta. Cerita tak sesuai kenyataan yang ada. Bertaraf nasional, tapi tempat penyelenggaraan kompetisi Tarkam, Liga 4 PSSI Sumbar
Memang pernah digunakan untuk Liga 1 musim 2024-2025 saat Semen Padang FC menjamu tamunya Barito Putra. Namun, ada tragedi kecil, seekor ular merayap dirumput. Semenjak itu, tak pernah lagi digunakan. Padahal, lebih Rp400 miliar, dana sudah dihabiskan. Kondisinya, masih memilukan dan memalukan.
Dua Gubernur, Lima Kadis
Pembangunan Stadion Utama Sumbar, memakan waktu panjang. Bahkan teramat panjang. 12 tahun sampai sekarang, masih terbengkalai. Kalau boleh dikatakan pekerjaan mangkrak. Sampai sekarang, tak ada solusi, tak ada keinginan untuk menggenjot pekerjaan, apalagi menyelesaikan.
Dibangun semasa Gubernur Irwan Prayitno, berlanjut tongkat estapet kepada kader PKS lainnya Mahyeldi. Stadion Utama Sumbar, berjalan lamban. Bahkan, sudah lima Kepala Dinas Pekerjaan Umum (Sekarang Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang) bertanggungjawab terhadap pekerjaan, juga putus ditengah jalan
Mulai dari Suprapto, Fhatol Bahri, Rifdha, Era Sukma sampai ketangan Armizoprades. 12 tahun berjalan, menelan anggaran Rp400 miliar lebih, progres masih dibawah 50 persen. Masih jauh dari harapan, mustahil untuk bisa diselesaikan. Meski Gerak Cepat sudah di gemakan. Beberapa proyek mangkrak, termasuk Stadion Utama Sumbar, tetap bertahan.
Jujur atau tidak jujur sepuluh tahun mendatang atau dua pemilu, dua pergantian kepala daerah Stadion Utama Sumbar tak bakal selesai. Soalnya, diperkirakan untuk menyelesaikan butuh dana lebih kurang Rp2 Triliun. Rincian Rp700 M, menyelesaikan stadion dan Rp1,7 T untuk menyelesaikan kawasan di sekitar stadion
Rekonstruksi GOR H. Agus Salim Rp400 M, Target 1 Tahun
Beda dengan GOR. H. Agus Salim, rencananya akan direkonstruksi total dengan anggaran Rp400 M. Mulai pekerjaan awal Mei 2026 dengan skema multiyear contrak dan ditargetkan selesai satu tahun. Artinya, stadion sudah bisa digunakan musim kompetisi 2027/2028.
Anggaran yang sudah digunakan Stadion Utama Sumbar dan akan digunakan untuk GOR H. Agus Salim tak jauh beda Rp400 M. Namun, jarak dan rentang pekerjaan jauhnya luar biasa. Stadion Utama Sumbar sudah 12 tahun masih mangkrak. Stadion GOR H. Agus Salim satu tahun, bakal selesai dikerjakan.
Rencananya Stadion Utama Sumbar, diselesaikan menggunakan dana APBN, kini terasa hampa. Karena Rp400 M, sudah digunakan untuk GOR. H. Agus Salim. Ya, Stadion Utama Sumbar kian merana.
Penulis
Novri Investigasi


