
SAWAHLUNTO, INVESTIGASI_Resah, pekerjaan irigasi diharapkan mengaliri sawah, tak seindah yang dibayangkan. Bahkan, berujung penderitaan. Ratok malang ini, menimpa petani di Desa Kolok Mudik, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto
Kenapa tidak! Ketidakpastian selesai program peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi utama Balai Sungai Wilayah Sungai V (BWSS V), berimbas terganggunya musim tanam
Harapan petani, proyek yang tersebar 14 Kabupaten/Kota, Provinsi Sumatera Barat, senilai Rp76,13 miliar dikerjakan PT. Brantas Abipraya, akan berdampak terhadap aktifitas pertanian, malah berujung kekecewaan
Tak tanggung tanggung, akibat keterlambatan proyek masa pelaksanaan 6 November 2025 hingga 31 Maret 2026 tiga kelompok tani dan 100 petani, tidak bisa memulai musim, sebab aliran air ke sawah terhenti akibat pekerjaan yang belum rampung.
Meski, sudah tertera, kontrak seharusnya selesai 31 Maret 2026, namun hanya pajangan di plang merek saja. Kenyataan sampai sekarang belum tuntas bekerja. Sungguh mirisnya akibatnya, satu musim tanam terlewati, akibat pekerjaan tersebut
Kelompok Tani dan Petani Menjerit
Keterlambatan pekerjaan dan susahnya bertemu pihak kontraktor maupun subkontraktor yang jarang berada dilokasi, mengakibatkan putus koordinasi, ini sangat disesali kelompok tani dan petani. Sebab, tidak saja menghambat produksi, juga distribusi pupuk melalui sistim e RDKK, terganggu
Ada tiga kelompok tani yang terdampak dan menjadi korban. Ujuang Tanjung Ngalau (22 petani), Buah Palo Padang Sarai (48 petani), Subangko (32 petani). Total lebih 100 petani, terganggu dan menunggu kepastian penyelesaian pekerjaan proyek
Jeritan kelompok tani dan petani, bukan tanpa alasan. Tidak saja, ketakutan tak bisa bertanam saja yang dihadang. Tapi, ada yang lebih mengerikan lagi, jika pupuk tak ditebus sesuai kuota yang telah ditetapkan dalam rencana kebutuhan kelompok
Konsekwensi yang dihadapi petani, mereka bisa dihapus dari sistim e RDKK tahun berikut atau mengalami pengurangan alokasi pupuk. Ya, bak kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah gagal tanam, distribusi pupuk juga terganggu. Bukan nikmat didapat, tapi sengsara diterima. Malangnya nasib kelompok tani dan petani
Penyebab Keterlambatan Pekerjaan
Terlambatnya pekerjaan irigasi dikerjakan PT. Brantas Abipraya itu, juga menuai sorotan Erwin Isril, ST, MT, IPP Ketua Gapeksindo Kota Padang. Katanya, keterlambatan pekerjaan irigasi ini, sudah biasa. Dan, ini sering terjadi, jika pekerjaan di subkon kan. Sebab, pembayaran Termyn yang digantung sangat lama
“Ya, wajar saja pekerjaan irigasi dikerjakan perusahaan BUMN ini, terbengkalai dan lamban. Karena, pekerjaan yang diberikan kepada subkon, tanpa uang muka. Pembayaran termyn yang digantung juga sangat lama,” ulas Erwin Isril yang sangat memahami persoalan ini terjadi.
Akibatnya, tambah Erwin Isril, subkon kehabisan modal kerja dan pekerjaan jadi terbengkalai. Alhasil, keterlambatan pekerjaan, petani yang ‘marasai. Subkon dan petani, korban dari keterlambatan pekerjaan,” katanya, sembari mengatakan, ini sudah menjadi rahasia umum
Pekerjaan Multiyear
Lain lagi tanggapan Ilham, Pejabat Pembuat Komitmen. Katanya, bukan pekerjaan yang terlambat, sebab masih dalam tahap kontrak. Inpres ini, merupakan pekerjaan multiyear dan dikerjakan sampai tahun 2026 ini. “Intinya, proyek itu masih dalam proses pekerjaan, bukan keterlambatan,” katanya
Penulis
Novri Investigasi


