
Segala sesuatu itu, ada ikhmahnya. Banjir dan longsor, menimbulkan duka mendalam, namun ada ide brilian dibalik bencana itu. Bagaimana mencari solusi, mengatasi masalah terjadi, memanfaatkan material bencana untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat bencana itu sendiri
Ini mendasari ide Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS V). Perkuatan tebing dan mencegah erosi/abrasi, menormalisasi sungai pasca banjir, menggunakan bronjong pasir. Menariknya, Bronjong pasir ini, pertama digunakan BWSS V di Sumbar.
Tidak saja kokoh, juga terlihat indah. Geobag disangkar bronjong berlapisan geotekstile berwarna putih. Pekerjaan pun mudah, biayapun hemat. Sebab, memanfaatkan material setempat, sesuai kondisi lapangan di Sumatera Barat.
Selama ini, material pasir dibuang karena pendangkalan sungai akibat sedimen yang hanyut dibawa banjir. Sekarang tak terbuang percuma, malah dimanfaatkan untuk perkuatan tanggul sungai. Ya, manfaat ganda didapat, material dimanfaatkan, banjir teratasi, tebing pun kokoh
Bronjong Pasir Dikerjakan PT. Nindya Karya
Bronjong pasir yang berbentuk indah, bak karung dalam sangkar itu, terlihat pada pekerjaan PT. Nindya Karya di belakang Kampus Adzkia, Kalumbuk Kecamatan Kuranji. Tepatnya juga, dibawah jembatan Kampung Kelawi. Terlihat mencolok diantara Jembatan Bypass dan Jembatan Kuranji.
Di sekitar bronjong pasir itu, juga terlihat indah susunan geobag. Dengan adanya bronjong pasir dan geobag itu, diharapkapkan bisa mengatasi banjir dan memperkuat tebing di lokasi bekas bencana banjir dan longsor. Bronjong pasir, keranjang kawat anyaman yang berlapisan geobag, berisikan pasir.
Tidak saja dipakai buat konstruksi dan penahan, namun terlihat Indah dengan geobag berwarna putih. Bahkan, semakin serasi dan asri beralasan geotekstile berwarna putih juga. Harapan kedepan diharapkan bronjong pasir ini, juga dikerjakan dilokasi lain yang selama hanya memakai bronjong susunan batu.
Penulis
Novri Investigasi


