
Tak pernah lagi kelapangan, melakukan investigasi infrastruktur. Sudah lama pensiun, seiring bertambahnya usia. Menonton dari jauh dan mengupas dalam bentuk tulisan, hanya itu yang dilakukan. Menjauh dari kehidupan dunia yang sarat fatamorgana, fokus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta
Tapi ada yang membuat perasaan terluka. Keadaan sudah berubah, banyak aturan yang dibuat, tak lagi berpihak kepada yang kecil. Justru menguatkan permainan yang besar. Salah satunya dibidang jasa kontruksi. Bukan tanpa alasan, keluarnya Perpres No 46 Tahun 2025, perubahan kedua Perpres No.16 Tahun 2018, Tentang Pengadaan Barang/Jasa
Soalnya, ada penambahan ayat Pasal 38 ayat 5. Intinya, ada indikasi dalam pasal itu, Penunjukkan Langsung untuk pekerjaan tertentu, bukan berdasarkan nilai. Diuraikan dalam pasal 38 ayat 4, kriteria barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya untuk kondisi tertentu, sebagaimana dimaksud pada ayat 4 meliputi.
A. Pelaksanaan program prioritas pemerintah, bantuan pemerintah dan/atau bantuan presiden, berdasarkan arahan presiden. Artinya, kalau presiden sudah memberikan arahan untuk proyek, program, prioritas pemerintah atau presiden, akan dilaksanakan melalui Penunjukkan Langsung, bukan E Purchasing, bukan juga mekanisme tender
BUMN dan Rekanan Besar Pesta, Rekanan Lokal Menderita
Akibatnya, proyek pemerintah khusus di Sumbar, dikuasai oleh BUMN. Seperti PT. Nindy Karya, PT. Hutama Karya, PT. Brantas Abipraya. Perusahaan plat merah ini mendominasi, meski di lapangan dilaksanakan subkon rekanan lokal. Derita rekanan kecil pun terlihat, bekerja tanpa uang muka, pembayaran termyn sering terlambat. Modal habis, pekerjaan terhenti dilapangan
Alhasil, modal kecil, tanpa subsidi uang muka itu, rekanan lokal ngos ngosan. Demi mengejar volume dan progres agar termyn segera cair, mutu dan kualitas dimainkan. Berimbas pada pekerjaan fisik dilapangan. Pemandangan biasa, jika tak terlihat lagi aktifitas pekerjaan, masih hitungan bulan terban dan ambruk
Ingin Turun Gunung
Sebagai inisiator media infrastruktur di Sumbar, hati terenyuh melihat kenyataan yang terjadi. Ingin rasanya turun gunung, investigasi ke lapangan. Walau sudah minggir, disebabkan puluhan tahun, bekerja menginvestigasi pekerjaan proyek, khusus di Sumatera Barat. Perlu renungan dan pemikiran matang, disaat hati sudah tenang jauh dari hiruk pikuk, investigasi proyek di lapangan
Penulis
Novri Investigasi
Inisiator media investigasi infrastruktur di Sumbar


