oleh Syarifuddin Arifin

Entah kenapa, Kamis kemarin saya nyasar ke wilayah Kota Tua Padang dan ketemu dengan seseorang. Saya menyapanya Abang, ya Bang Chairil dan dia panggil saya Bung. Menurut catatan ia meninggal 28 April 1949 lalu. Bersama teman-teman penyair muda Jakarta, saya ikut menabur bunga di kuburannya di daerah Karet, April 1981. Artinya sudah 45 tahun kami tidak ketemuan. Setelah membaca buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan oleh Arief Budiman, sebuah pembahasan tentang eksistensialisme. Saya merindukan jiwa yang bebas lepas Chairil Anwar, pentolan penyair angkatan 45 besutan Hans Baqiu Yassin itu.
Kami menikmati suasana sore hingga malam. Teh Talua, setelah menyantap Sate Payakumbuah. Gedung tua yang sudah direnovasi, angin sepoi-sepoi, kapal-kapal bergoyang pelan, lampu aneka warna di Jembatan Sitti Nurbaya, dan suara musik sayup-sayup dari cafe yang dipenuhi anak-anak muda. Tali temali, tiang-tiang dan cahaya lampu di punggung bukit. Nun, di ujung mata, ia teringat saat terpasah di Sunda Kelapa;
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak.(Senja di Pelabuhan Kecil
Bang Chai menghela napas. Aku mendengar keluhnya yang sedang kasmaran, tentang cintanya yang ditolak gadis yang tinggal di Gang Kenari, Salemba. Sri nama gadis itu, telah melecehkan Chairil ketika menyatakan isi hatinya.
“Aku terpukul, Bung. Kukayuh sepedaku dan tiba di pelabuhan Sunda Kelapa. Di Kota Tua Padang ini, kenangan itu memburu ingatanku,” katanya.
Dari pengakuan Bang Chai, saya berpikir ternyata jiwanya yang memberontak terhadap lingkungannya itu, anak Taeh Baruah kelahiran Medan ini berhati lembut, romantis. Sajaknya, Lagu Biasa ( ia mengerling, ia ketawa/ dan rumput kering terus menyala), Penerimaan (sedang dengan cermin aku enggan berbagi),Tak Sepadan ( jadi, baik juga kita padami/unggunan api ini), Orang Berdua (kamar ini jadi sarang penghabisan/ di malam yang hilang batas/ aku dan dia menjangkau rakit hitam), Pelarian (hancur luluh sepi seketika),Cintaku Jauh di Pulau (Manisku jauh di pulau/
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.) Sia-sia (ah, hatiku yang tak mau memberi/ mampus kau dikoyak-koyak sepi)
Hari ini, seperti 77 tahun lalu. Tepat 28 April 1949 Chairil Anwar wafat, namun Bang Chai serasa benar-benar hidup sepanjang waktu. Dia meradang; Aku ingin hidup seribu tahun lagi (sajak Diponegoro), dan benar meski secara fisik Bang Chai tak mungkin hidup lagi, namun ternyata, pertemuan saya dengan penyair modern, yang melakukan pendobrakan terhadap konvensi penulisan puisi dalam bentuk soneta atau pantun terikat itu, dalam puisi Aku yang sampai hari ini banyak disukai ia menyebut: sekali berarti, sudah itu mati.
Pada bagian lain, beberapa pengamat menyebut bahwa puisi-puisi Chairil tidak sepenuhnya diilhami oleh lingkungannya yang selalu “bergolak”. Sajak Krawang-Bekasi misalnya disebutkan bahwa Chairil telah melakukan adopsi dari puisi The Soldier karya Rupert Brooke. Bila dilihat secara tematis memang mirip. Namun ia punya semangat yg berbeda. Krawang Bekasi terasa lebih getir, memilukan, dan arwah para suhada memberi tanggungjawab kepada penerusnya. Sedang The Soldier yang bernada romantis itu terasa lebih idealis.
Begitu pun puisi Huesca yang diangkat oleh Federico Garcia Lorca dari sebuah kota yang sepi amis, bau darah akibat Perang Dunia l di Spanyol. Chairil Anwar sengaja menerjemahkan sajak tersebut menjadi sajak romantis yang kuat dengan judul yang sama.
*
Untuk kesekian kali, Bang Khai meneguk Teh Taluanya, dan berbisik kepada saya.
“Aku rindu bau alkohol yang menghangatkan dada ini. Apakah Bung If tidak suka wayne?”
“Di sini tidak ada. Bila Bang Chai mau, di balik bukit itu ada Tuak. Minuman tradisi yang cukup menghangatkan,”
Chairil Anwar terkejut mendengar tuak dan kata tradisi. Matanya mulai bercahaya, seperti memancarkan api yang siap membakar.
Mempertahankan tradisi tanpa memperbarui pakaiannya, akan sia-sia. Tradisi tetap terpakai dengan modifikasi modern, sejalan dengan perubahan zaman. Bila tidak, kau akan stagnan,” katanya, dan melanjutkan kalau dia sudah melakukan sebuah loncatan jauh.
Jauuuhh, hingga melampaui pagar.
Hopla! Teriak Chairil Anwar. Kita harus berani melakukan perubahan, meloncat jauh ke depan. Sastra Indonesia harus berani merombak konvensi yang sudah ada. Ia pun mengutip Surat Kepercayaan Gelanggang;
Kebudayaan Indonesia harus menyerap nilai-nilai baru, tanpa harus melap-lap, mempertahankan kebudayaan tradisi yang meski diperbarui menurut zamannya.
Untuk itu, dengan manis dan romantis, Bang Chai tak segan-segan menghempaskan batinnya. Sebagai anak bupati Indragiri dan keponakan St. Syahril, yang jiwanya lepas bebas secara gamblang ia ucapkan: Sekali berarti, sudah itu mati ( sajak Aku).
“Bung lf. Kau beruntung bisa hidup 70 tahun. Aku hanya 27 tahun, ketika bengkalai negeri ini belum penuh dibenahi, aku sudah selesai. Eh apa kabar para maling yang kian kondang?” katanya menatap mata saya.
Saya tergugu atas pertanyaannya.
Maling-maling berdasi masih nyaman di kursi goyangnya. Negeri ini salah urus. Pejabatnya masih doyan dengan komisi. Bila dulu, di awal kemerdekaan para tokoh pergerakan berjuang mempertaruhkan nyawa demi kesejahteraan anak cucunya. Kini sebagian penyelenggara negara ini, berusaha mendapatkan komisi, mark up harga barang, rakus atau tamak. Loba!
Bang Chai menjentikkan abu rokoknya ke lantai. Meneguk teh talua lagi. Sambil menggeleng dia mengatakan, sejumlah penyair di Jakarta siang tadi meramaikan rumah terakhirnya, di karet, di karet…..
Padang, 28 April 2026.


