
oleh : Richard Akb
Siapa yang tidak kenal dengan mantan Gubernur Sumbar, Ir. H. Azwar Anas, Sang Datuak, yang berpangkat Jendral bintang dua ( Mayjen), berjasa besar bagi pembangunan Sumatera Barat tempo dulu.
Ia memulai karirnya di jabatan sipil, sebagai Dirut PT Semen Padang yang kala itu hampir terjadi kebangkrutan di perusahaan plat merah itu, sekitar tahun tujuh puluhan.
Dia melakukan berbagai pembenahan, baik manajemen perusahaan maupun berbagai upaya peeningkatan produksi, serta pemasaran semen yang tepat sasaran, baik lokal.maupun manca negara.
Pokoknya dimasa kepemimpinan Azwar Anas, PT Semen Padang lepas dari ancaman kebangkrutan. Menjadi perusahaan milik negara yang mampu bersaing sehat dengan pabrik lainnya yang ada di tingkat nasional, bahkan dunia.
Debut awalnya yang dirasakan masyarakat, yaitu mendekatkan diri dengan warga sekitar Indarung Padang, ia membangun sebuah mesjid yang sangat megah kala itu, berdekatan dengan Pabrik Indarung Satu (di pinggir jalan umum).
Berbagai keberhasilannya itu pulalah yang membuat citra Padang/ Sumatera Barat makin melangit dimata warganya dan nasional.
Sukses mengembalikan citra baik PT Semen Padang. Azwar Anas selanjutnya dipercaya menjadi Gubernur Sumbar dua periode.
Dia membangkitkan semangat membangun di ranah minang , dengan motto “Mambangkik Batang Tarandam,,” dengan berbagai idiom keminangan, agamis dan budaya. Sangat sukses dan diakui pemerintah pusat dengan diberikan petaka, Wahana Tata Nugraha, dan embel embel lainnya, sebagai simbol keberhasilan memacu pertumbuhan pembangunan di ranah Minang.
Kalau berbicara Azwar Anas banyak sekali cerita cerita nyata menarik, baik.pembangunan.pisikmaupun mental spiritual masyarakat.
Agama dan adat selalu yang mendasari gebrakannya di ranah Minang.
Ia juga betul betul memadukan peran “Tungku Tigo Sajarangan”. Yaitu Alim ulama, Ninik mamak dan cendekiawan/ilmuwan/ teknokrat dan lainnya.
Kala itu alim ulama, kaum adat dan cerdik pandai/ ilmuwan/ teknograt betul betul menampakkan diri dan ” sailia samudiak”/ bersama, Jo gubernur dalam setiap hal/ pembahasan kemajuan nagari. Enak dan satun sekali Ir. H. Azwar Anas kala itu.
Cerita dibagian lain, tentang eksistensi Gelanggang Olahraga ( GOR) H. Agus Salim Padang dikawasan Rimbo Kaluang/ kelelawar.
Kawasan Rimbo Kaluang (GOR) dulunya adalah betul betul rimbo, termasuk kawasan kumuh dan kawasan olahraga pacu kuda tradisional. Yang sangat ngetop waktu itu di Sumbar.
Sekitar tahun 1980 an, Sumbar ditetapkan sebagai tuan rumah MTQ Nasional ke 13 tahun 1983.
Azwar Anas bersama pemangku kekuasaan waktu itu menetapkan lahan untuk MTQ tersebut di Rimbo Kaluang Kecamatan Padang Barat.
Pendek cerita ditatalah kawasan tersebut menjadi bersih dan indah. Dengan membangun sebuah panggung utama untuk puncak acara Pembukaan MTQ Nasional ke 13 Tahun 1983 ( kalau penulis tidak salah).
Panggung utama tersebut kini terlihat sebagai Tribune tertutup/ beratap GOR. H.Agus Salim yang sangat indah dan kuat, yang didukung tiang lampu besar di empat sisi masih terlihat dan berdiri kokoh sampai saat ini.
Sumatera Barat sangat sukses sebagai penyelenggara MTQ Nasional ke 13, baik dari segi acara pembukaan yang sangat megah dan tertata apik dengan menampilkan ribuan penari Minang dan atraksi lainnya, serta respon masyarakat yang sangat luar biasa ramainya.
Termasuk penyelenggaraan musabaqah dan acara penutupannya, luar biasa sekali.
MTQ Ke.13 usai. Setelah dihitung untung rugi, ternyata dana.penyelenggaraan berlebih.
Kelebihan dana tersebut yang cukup besar, oleh Azwar Anas diputuskan untuk membagun GOR Sepakbola.
Panggung utama MTQ tetap ada ,dan ditambah dengan membangun Tribune terbuka sekeliling lapangan dan sarana prasarana lainnya.
Kelebihan dana MTQ 13 tersebut juga dibangun dikawasan jati dekat PGAI, Akademi Ilmu Qur’an, kini berkembang menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an (STIQ) ( kalau penulis tidak salah).
Gubernur Azwar Anas memang terbuka sekali, sampai sampai kelebihan dana sumbangan masyarakatpun dimanfaatkan kembali untuk masyarakat . Luar biasa.
Dalam perjalanannya kawasan GOR H..Agus Salim semakin mapan dan indah. Apalagi juga dilengkapi berbagai sarana penunjang lainnya, termasuk kini kawasan tersebut menjadi kawasan perumahan yang elite.
Lalu kini ada wacana pembongkaran Stadion Utama GOR H.Agus Salim, diganti dengan wajah yang baru dengan dana Rp300 Miliar, multiyear beberapa tahun ke depan, . Katanya sudah tender , dimulai Juni/ Juli 2026, dari dana pusat.
Kalau boleh jujur, eksistensi GOR H.Agus Salim tersebut sangat monumental dan bersejarah sekali. Perjuangan rakyat Sumbar diatas komando Gubernur Azwar Anas kala itu. Banyak sekali suka, duka dan kenangan pahit manisnya membagun GOR tersebut. Betul betul menjadi kebanggaan, icon dan kebanggaan rakyat Sumbar sampai saat ini.
Kalau tidak ada jalan lain dan harus meruntuhkan stadion tersebut , apa boleh buat, demi kemajuan pesepakbolaan Sumbar, katanya.
Orang Minang selalu mengatakan sesuatu dengan lagu, baik saat putus cinta, bercinta, bansaik, melarat, gagal, sukses, Tibo galodo dan sebagainya .
Khusus untuk.pembagunsn GOR yang baru di Padang dan harus meruntuhkan GOR H. Agus Salim yang sudah ada .
Jangan ibarat ratok penyanyi legendaris Minang, Zalmon.
Dek Arok Cahayo bulan , suluah/ lampu togok ditangan dimatikan.
Akhirnya mati cahayanya keduanya, ” Sikua capang Sikua capeh”. Lapeh keduanya, “Sakik semakin parah”.?
Makanya pembagunan baru GOR H. Agus Salim Padang harus tuntas, seperti Stadiun JIS/ Jakarta Internasional Stadion . di Jakarta, betul betul tuntas 100 persen. Jangan seperti pembangunan GOR Bulu Tangkis disamping GOR Agus Salim yang tak kunjung rampung puluhan tahun .
Kini menjadi besi tua,/ beton tua yang sudah merimba
dan juga Stadion Sepakbola Sumbar di Pariaman yg ndak tuntas 100.persen bertahun tahun ??.


