
Sore hari itu datang bukan sekadar membawa matahari yang mulai meredup, melainkan membawa momen hening yang mengundang hati untuk merenung. Secangkir kopi berdiri tenang di hadapan, bukan sekadar minuman biasa, melainkan sahabat setia yang telah lama mengenal selera dan suasana jiwa. Ia tak terlalu manis, namun tak pula sekadar pahit biasa—ia adalah cerminan hidup yang memiliki rasa tersendiri, hangat dan akrab, seakan setiap butirannya menyimpan kenangan dan cerita yang tak terucap.
Ketika air panas mendidih dicurahkan masuk, udara seketika dipeluk oleh wangi yang akrab dan disukai. Warna hitam pekat yang indah merambat memenuhi tubuh cangkir putih, seakan malam yang datang dengan anggun menyelimuti siang. Aroma itu seakan memiliki tangan yang lembut, mengetuk pintu ingatan dan membangkitkan bayangan rasa yang telah lama kita kenal, menyapa lidah dan hati sebelum pun kita meminumnya.
🥄 SENDOK KECIL YANG MENJADI GURU AGUNG
Dan di sanalah ia berada: sendok teh kecil dari baja yang mengkilap. Ia tenggelam diam di dalam air yang mendidih panasnya, seakan tak merasa apa-apa, tak bergerak sedikit pun. Air panas itu seakan menjilat-jilat seluruh tubuhnya, memeluknya dengan suhu yang bisa membakar kulit manusia, namun sendok itu tetap tenang, tetap bisu, dan tetap setia pada tempatnya. Ia tidak pernah membuka mulut untuk berteriak kesakitan, ia tidak pernah mengeluarkan suara untuk mengeluh, dan ia tidak pernah menampakkan wajah yang meringis. Ia hanya diam, tabah, dan menerima apa yang menjadi bagiannya dengan sepenuh pasrah.
Sendok itu seakan berbisik tanpa suara: “Lihatlah aku. Aku terbuat dari zat yang tak memiliki rasa, tak memiliki perasaan, tak memiliki hati yang bisa terluka atau terbakar. Itulah sebabnya aku mampu berdiri tegak menahan segala panas, segala tekanan, dan segala keadaan tanpa pernah sekalipun berpaling atau menolak tugasku.”
Bayangan itu seakan melayang di udara, mengajak kita semua berandai-andai: “Seandainya aku ini yang menjadi sendok itu? Seandainya tubuh dan hatiku yang tercelup ke dalam panas yang menyengat itu?” Tentu suara jeritan akan membelah ruangan, tentu kaki dan tangan takkan mampu diam di tempat. Jari kecil saja takkan sanggup menahan sentuhan panas sesaat, apalagi harus tenggelam lama dalam pelukan api air itu. Kita akan meronta, kita akan menolak, dan kita akan berteriak meminta pertolongan sekuat tenaga.
✨ HIKMAH YANG TERSEMUNYI DI BALIK KETETAPAN-NYA
Namun di balik kesederhanaan benda kecil itu, tersembunyi rahasia kebijaksanaan Allah yang luar biasa indah. Hati dan akal seakan terbuka lebar, menyadari betapa sucinya aturan dan ciptaan-Nya. Allah Yang Maha Bijaksana sengaja tidak menitipkan rasa sakit atau perasaan pada benda mati itu, bukan tanpa alasan. Ia tahu, jika sendok itu punya hati dan punya rasa seperti kita, pasti ia akan marah, pasti ia akan menolak diaduk, pasti ia akan bertengkar dengan tangan yang memegangnya, dan pasti ia akan menolak melayani apa yang menjadi keperluannya.
Dengan tidak diberikannya rasa, ia menjadi alat yang sempurna: patuh, setia, tabah, dan tak pernah mengeluh. Ia hadir hanya untuk melayani, hanya untuk membantu, dan hanya untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik tanpa pernah meminta balasan atau mengeluh beban. Inilah pelajaran agung yang diajarkan benda kecil itu kepada jiwa kita: Bahwa perasaan dan rasa yang dikaruniakan kepada manusia adalah anugerah yang mulia, namun sekaligus ujian yang berat. Karena rasa itu bisa menjadi sumber kasih sayang, namun bisa juga menjadi sumber pertentangan, kemarahan, dan penolakan jika tidak dijaga dengan iman dan akal yang jernih.
Subhaanallah…! 🤲 Kalimat suci itu meledak dari lubuk hati yang paling dalam, seakan seluruh isi alam semesta ikut berseru memuji kebesaran-Nya. Betapa Maha Suci, Maha Bijaksana, dan Maha Adil segala ketetapan-Nya. Segala sesuatu yang diciptakan-Nya, besar maupun kecil, terlihat penting atau sekadar sepele, semuanya menyimpan hikmah, semuanya menyimpan pesan, dan semuanya adalah bukti nyata kasih sayang serta keagungan-Nya yang tak terhingga.
Benda kecil yang diam itu pun akhirnya menjadi guru yang paling hening namun paling nyaring suaranya. Ia mengajarkan kita tentang ketabahan, tentang pasrah, dan tentang betapa sempurnanya pengaturan Tuhan terhadap segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi.
(Tb Mhd Arief Hendrawan/Cah Angon)


