
Jo lontong Pitalah sarapan pagi,
Ado juo sarapan jo Pical,
Labiah lamak bakawan bakwan,
Lah heboh Galanggang rami… ✨
Begitulah riuh rendah kehidupan berjalan, seakan jalanan dan pasar sendiri yang bercerita tentang keramaian dan kesibukan. Ketika mata dan telinga kita dibuka lebar, terlihat jelas bagaimana Galanggang rami bagai sebuah panggung besar tempat segala hal tampak terlihat nyata.
Sibuk razia tambang ilegal,
BBM ilegal ikuik diamankan… 🛡️
Hukum seakan bangkit berdiri tegak, matanya tajam memandang ke segala penjuru, tangannya kuat memegang kendali agar ketertiban tidak luntur. Ia berjalan menyusuri setiap lorong kehidupan, menyisir apa yang salah dan meluruskan apa yang terbalik. Gunung-gunung seakan ikut mengawasi dari kejauhan, bernapas lega saat apa yang menjadi hak alam dan bangsa kembali dijaga dengan sepenuh hati.
Tagak manjago Gunung Singgalang,
Sabarih jo Gunung Marapi,
Nampak nan dari Lubuk Sikarah… 🏔️
Dua raksasa alam itu berdiri tegak bagai penjaga setia, puncaknya menembus awan seakan sedang berbisik kepada langit:
“Lihatlah ke bawah, lihatlah apa yang terjadi di tanah yang kami peluk ini.”
Dari kejauhan, dari lembah yang dalam hingga dataran yang luas, mata alam dan mata nurani manusia sama-sama tertuju pada satu hal yang kini tumbuh subur di setiap sudut jalan.
Batanyo juo urang sagalanggang:
Depot air minum manjamur kini,
Lai punya izin pemakaian aia tanah? 💧
Pertanyaan itu tidak sekadar keluar dari mulut manusia, melainkan seakan keluar dari bibir tanah yang kita pijak, dari mata air yang mengalir pelan, dari setiap tetes air yang menjadi sumber kehidupan. Air tanah itu sendiri seakan berhenti sejenak mengalir, menatap tajam dan bertanya lirih:
“Wahai manusia yang membutuhkanku… Aku keluar dari perut bumi dengan membawa berkah dan kehidupan. Aku bukan milik seorang pun semata, aku adalah titipan yang harus dijaga dengan aturan yang benar. Apakah tangan yang mengambilku sudah memegang surat izin yang sah?
Apakah tangki yang membawaku telah membawa bukti bahwa aku diambil dengan cara yang adil, tidak merusak, dan tidak merugikan sesama?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, seakan menjadi gema yang berulang-ulang terdengar di telinga setiap pemilik usaha, setiap penyuplai, dan setiap kita yang meminumnya.
Depot-depot air minum itu berdiri rapi di pinggir jalan, seakan mereka sendiri pun diam menunggu jawaban: “Apakah kami hadir membawa berkah yang sah, ataukah kami tumbuh di atas sesuatu yang belum jelas hak miliknya?”
Tanah tempat air itu bersembunyi seakan ikut berbicara lembut namun tegas:
“Aku menyimpan air ini agar tetap ada untuk semua, untuk sekarang dan untuk masa yang akan datang. Janganlah kalian mengambilnya semata demi keuntungan, tanpa meminta izin dari Pemiliknya dan dari mereka yang berhak mengaturnya. Karena jika aku terluka, jika airku habis diambil tanpa batas dan tanpa aturan, maka matilah kehidupan yang bergantung padaku.”
Begitulah makna yang tersembunyi di balik keramaian dan kemeriahan. Di balik kesegaran yang kita nikmati setiap hari, terselip pertanyaan besar yang memanggil hati nurani untuk bangkit: Bahwa setiap tetes air yang sampai ke gelas kita, haruslah air yang bersih bukan hanya secara fisik, melainkan juga bersih secara hukum, bersih secara hak, dan bersih secara tanggung jawab.
Karena pada akhirnya, air adalah kehidupan. Dan kehidupan tidak akan bertahan lama jika dibangun di atas dasar yang rapuh dan tidak benar. ✨🤲
Insya’ Allah, harapan dan do’a kita bersama ini takkan tertolak dan akan menjadi kenyataan. Tulisan ini akan hidup dan berjalan bagai cahaya yang menerangi sudut-sudut hati, bagai air sejuk yang menyadarkan kesadaran kita, dan bagai suara lembut yang mengingatkan kita semua akan tanggung jawab besar yang kita emban terhadap alam, terhadap sumber kehidupan, dan terhadap masa depan kita bersama. 🤍🌿
(Tb Mhd Arief Hendrawan/Cah Angon)


