
Porprov VXI, sudah digelar, kabupaten/kota Sumbar merebut gelar. Menjadi yang terbaik, menapak puncak di gelanggang, meraih mimpi, mengukir prestasi. Namun, persaingan tak seindah yang dibayangkan, tak seketat yang diharapkan.
Anggaran menjadi kendala bersaing merebut juara. Bagi daerah yang menganggarkan terbesar, mengikuti jumlah Cabor dan mengirim atlit terbanyak, berpeluang merangkak ke papan atas dan berebut juara umum
Tak perlu menunggu jawaban, tak perlu menunggu detik akhir Poprov Sumbar, Kota Padang dipastikan kembali meraih juara umum. Bukan tanpa alasan, anggaran Rp38 M, mengikuti hampir seluruh cabang olahraga dari 52 cabir diperlombakan dan mengirim atlit terbanyak 1.061 yang siap laga.
Bahkan, rangsangan Rp40 juta bagi atlit peraih medali emas, Kota Padang tak terbendung lagi mempertahankan juara umum. Peluang semakin terbuka lebar, karena menjadi tuan rumah 20 cabor. Wajar saja, prediksi bergulir, Kota Padang sudah menjadi juara umum, sebelum Porprov digelar. Kalau tak juara umum, ya cando minyak habih sama tak lamak
Porprov Sumbar, Ajang Pertarungan Materi
Porprov Sumbar, bukan saja ajang prestasi, tapi pertarungan materi. Semakin besar daerah mengalokasikan anggaran untuk Porprov semakin besar peluang untuk juara umum. Makanya, mudah ditebak, Porprov ke XVI ini, Kota Padang, masih bertahan menjadi juara umum.
Ya, percaya tak percaya, sebaiknya percaya saja. Daerah yang anggaran terbatas, disamping persiapan atlit yang terbatas juga, hanya mampu mengirimkan atlit untuk beberapa Cabor. Sehingga, semakin tipis berjuang memperebutkan medali
Sadar tak sadar, alokasi anggaran motor penggerak utama menentukan kualitas dan persiapan atlit. Termasuk menentukan banyaknya Cabor diikuti. Ibaratnya, anggaran tidak saja berfungsi sebagai biaya operasional, juga menjadi investigasi strategis untuk mengkonversi dana demi meraih medali emas
Kenapa besarnya alokasi anggaran berpengaruh terhadap prestasi daerah. Sebab, melalui anggaran itu, daerah bisa mempersiapkan atlit dengan matang. Baik itu persiapan, meningkatkan performa atlit secara ilmiah dan berkelanjutan
Fokus melaksanakan Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) dan membiayai Training Center (TC) jangka pendek. Uang saku atlit terpenuhi, menjadi suplemen bagi atlit berlatih serius. Tersedia uang try out menguji kemampuan atlit.
Semakin besar anggaran, semakin banyak cabang diikuti. Dan, pancingan bonus, membuat semangat atlit berlipat ganda. Lalu, bagaimana daerah minim anggaran. Ya, bak pepatah Minang. “Masak sajo nasi sabanyak Bareh” Bersambung
Catatan
Novri Investigasi


