
Padang, Investigasi_ Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Dunia seni dan musik Minangkabau berduka yang mendalam. Guru dan sahabat kita tercinta, Baharudin atau yang akrab disapa B. Andoeska / Mak Etek, telah berpulang ke Rahmatullah pada:
Hari/Tanggal: Selasa, 13 Oktober 2026
Pukul: 20.10 WIB
Tempat: RS UNAND.
Kepergian sosok komponis multitalenta yang karya-karyanya senantiasa menggema di berbagai penjuru Ranah Minang ini meninggalkan jejak dan warisan seni yang tak ternilai harganya bagi kebudayaan Sumatera Barat.
Profil Singkat Almarhum
Lahir dengan nama lengkap Baharudin pada 11 Februari 1948, beliau berasal dari suku Tanjung dengan orang tua bernama Syamsudin dan Saima.
Nama panggung Andoeska memiliki arti filosofis yang mendalam, yaitu singkatan dari Anak Dusun Kota Anau. Selain itu, almarhum juga dikenal sebagai seorang rang sumando urang Piaman (Taratak).
Meskipun tidak lahir dari latar belakang keluarga seniman, ketekunannya pada dunia musik sudah terlihat sejak dini, di mana ia mulai belajar membaca not balok dan tangga nada mandiri sejak duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD).
Mahakarya Abadi: Pencipta “Mars Sumatera Barat”
Selain dikenal sebagai spesialis pencipta lagu-lagu daerah pesanan bupati dan wali kota, salah satu sumbangsih terbesar almarhum bagi provinsi ini adalah penciptaan Mars Sumatera Barat.
Lagu resmi daerah ini kini menjadi kebanggaan masyarakat Minang yang selalu rutin dikumandangkan dan dibawakan dalam berbagai acara resmi maupun kenegaraan di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Mars ini menjadi simbol pemantik semangat persatuan, kecintaan, dan identitas masyarakat Minangkabau.
Warisan Karya dan Kontribusi Besar.
Semasa hidupnya, B. Andoeska mendedikasikan diri untuk mengangkat keindahan alam serta budaya Minangkabau melalui karya-karya emasnya.
Lagu-lagu ciptaannya kerap dibawakan oleh penyanyi-penyanyi papan atas Indonesia, di antaranya:
Mars Sumatera Barat (Lagu resmi identitas Provinsi Sumatera Barat)
Hetty Koes Endang, lewat tembang populer seperti “Danau Diateh, Danau Dibawah” dan “Guguak Manyambah”
Dessy Santhia, serta berbagai lagu daerah yang mengangkat pariwisata daerah seperti Kota Sawahlunto (yang mengantarnya menerima penghargaan khusus pariwisata heritage pada April 2026).
Penghargaan Terakhir
Sebelum berpulang, dedikasi besar B. Andoeska sempat mendapatkan apresiasi tinggi dari pemerintah daerah, termasuk penghargaan dari Gubernur Sumatera Barat atas penciptaan Mars Sumbar serta apresiasi dari Pemerintah Kota Sawahlunto sebagai musisi yang berjasa memajukan wisata heritage.
Kini, sang komponis, guru, sekaligus rang sumando Piaman (Taratak) tercinta telah pergi menghadap Sang Khaliq.
Semoga Almarhum ditempatkan di sisi Allah SWT, diampuni segala khilafnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran serta ketabahan.
Karya-karya abadi beliau—terutama Mars Sumatera Barat yang terus berkumandang di setiap penjuru nagari—semoga menjadi amal jariyah yang tak terputus.
Selamat jalan, Mak Etek / B. Andoeska. Jasa, bakti, dan alunan melodi Mak etek akan abadi di hati masyarakat Minangkabau.(Jhon Bass).


