
Kain katun baragi Bungo
Barendo jo banang suto
Dibao urang dari Sawahlunto
Untuak kadipakai dek anak Daro
Alun kariang aia Mato
Masih taraso seso bancano
PETI Ilegal kambali manyalo
Aparat penegak hukum antah dimano
Tak punya hati, kurang empati. Tak perduli, bencana menimpa negeri. Terpenting, memperkaya diri sendiri. Apapun yang terjadi, terjadilah. Emang gua pikirin. Itu yang terpikir manusia manusia serakah.
Masih ada air mata, masih terasa sisa derita bencana, PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin) liar kembali merajalela. Merambah hutan, mengeruk isi perut bumi. Padahal, belum genap enam bulan, banjir dan longsor meluluhlantakan negeri ini.
Beberapa daerah di Ranah Minang, raungan puluhan eskavator, memecah kesunyan. Puluhan alat berat, bergerak tiada henti. Seakan tak ada yang perduli, lupa apa yang terjadi selama ini.
Viral, sekarang ini. Di Kota Sawahlunto, aktifitas PETI tak lagi terkendali. Ada lima desa, raungan eskavator tak kunjung berhenti. Disebut Desa Talago Gunung, Talawi, Kolok, Sijantang dan Rantih. Bahkan, disebut sebut dilakukan terang terangan, tanpa ada langkah penindakan dan terkesan membiarkan.
Begitu juga di daerah lain, seperti Kabupaten Solok, Solok Selatan dan Kabupaten Pasaman dan beberapa daerah lain di Ranah Minang ini. Seakan tak terkendali, semakin ganas mengeruk isi bumi
Diduga Ada Jaringan Mafia PETI
Bicara masalah PETI, tidak saja melibatkan penambang kecil atau kelompok kecil saja. Dibalik semuanya itu, terdapat jaringan mafia tambang yang mendapat dukungan oknum.yang memiliki kekuasaan dan pengaruh dalam sistim pemerintahan
Maka terjadilah, cando makan buah Simalakamo, terutama PETI tanpa izin. Mau dilarang, ada ratusan warga bergantung hidup dari tambang. Tak dilarang, mafia tambang ‘ikut’ bermain di gelanggang. Berladang dipunggung ‘penambang rakyat’
Bedanya,
mafia mengeruk isi perut bumi, mengerahkan puluhan alat berat, hutanpun dibabat. Demi mengamankan aktifitas, dibeking oknum aparat. Menjadikan tambang ilegal sumber kekayaan, tak perduli merambah hutan, mengeruk sungai, beresiko terhadap lingkungan.
Tak Kunjung Usai, Meski Sering Dirazia
Kegiatan ilegal mining yang disebut operasi (PETI), makin menarik untuk ditelusuri. Bahkan, kegiatan ini, menghiasi berbagai media cetak, televisi, online maupun media sosial. Banyak sudah, ditindak lanjuti, namun ada juga yang beroperasi sampai kini
Entah apa yang terjadi, jeritan rakyat tak ada arti. Bencana sudah terjadi meluluhlantakan Ranah Minang ini. Korban nyawa, harta, benda dan mata pencaharian, seakan tak berarti dan tak membuat jera. Meski bersembunyi dan oknum mengetahui, beroperasi lagi
Bahkan, tak terhentikan, operasional tetap jalan. Masih berlanjut, tanpa ada rasa takut. Berjalan, seperti biasa. Bukan berkurang, alat berat makin bertambah. Masyarakat mengeluh, malah menjerit. Tapi, jeritan tertahan tanpa ada yang mendengar.
Raungan alat berat eskavator, terus bergema memecah kesunyian. Kepada siapa lagi mengadu, semua terasa buntu. Nyanyian hati, seakan tak berarti.
Masyarakat berharap, pihak Kapolri benar-serius menindak masalah tambang dan semua kegiatan ini segera di tuntas kan. Raungan alat berat eskavator, sangat leluasa, seakan tidak ada takutnya. Manisnya lagi, Bahan Bakar Minyak (BBM) digunakan, pembelian dari solar subsidi.
Kegiatan ini sudah begitu lama terjadi di dalam. Pesan Burung seakan tak berarti. Bahkan, tak lagi terdengar merdu. Karena, hilang tertelan raungan eskavator. Sawah dan ladang tak lagi terjaga, akibat datangnya bencana. Rimbo tempat berlindung sudah dibabat habis. Entahlah, siapa yang salah?
Penulis
Novri Investigasi


