
Tak enak rasanya, kalau tidak dilanjutkan. Apalagi, diakhir tulisan ada kata bersambung
‘Kalau indak disambung tantu putuih. Tanda tanya juga bagi pembaca, ada apa? Padahal, tak ada apa apa. Pertanyaan ada ada saja. Ya, begitulah kalau berita dan tulisan hilang begitu saja. Walau, bukan 404.
Tulisan sebelumnya, bercerita tentang proses lelang. Diawali lelang manual, bisa dimainkan sesama rekanan dengan kompensasi ‘ uang Cinduo’ Lelang LPSE, E Katalog, Penunjukkan Langsung berlindung Perpres 46/2025, tentang Pengadaan Barang/Jasa di Pemerintahan.
Ujungnya, juga terbuka celah permainan dengan rekanan akan dimenangkan. Bedanya, lelang manual, dinikmati bersama rekanan lain. Lelang LPSE, E Katalog, main mata ‘haniang haniang saja’ tapi baunya terasa. Namanya main mata, pasti tanpa suara.
Kedipan sarat makna, tapi hasilnya luar biasa. Tak usah bercerita, cukup tahu saja. Kita lanjutkan saja tulisan ‘Wartawan Bodrex’ di Lingkaran Proyek’. Kali ini mengupas, kenapa bisa ada berita viral itu. Tentu ada alasan penulisnya, sehingga berani mengambil kesimpulan.
Tak peduli melukai perasaan wartawan di lapangan. Ya, biarkan saja, mengeluarkan uneg uneg, karena merasa ada persaingan dan berpengaruh terhadap pendapatan. Kembali ke pokok persoalan, wartawan profesional (bukan bodrex) itu, manusia cerdas.
Ia bukan ahli hukum, tapi memahami hukum. Ia bukan ahli politik, tapi memahami politik. Ia bukan ahli konstruksi, tapi memahami konstruksi. Tapi, ada juga wartawan sok tahu (mungkin ini ia sebut wartawan Bodrex). Walau sok tahu, tapi ia faham dan tahu situasi di lapangan.
Makanya, ia berani turun ke lapangan melihat langsung pekerjaan proyek. Walau tak faham, ia tahu setiap pekerjaan sarat permasalahan. Kedatangan mereka, sekedar hadir tanpa konfirmasi, sebab tak tahu apa yang akan ditanyakan. Namun, kehadiran mereka, membuat kontraktor kelabakan.
Ujung ujungnya, takut pekerjaan diberitakan, borok terbongkar, rekanan memberi ‘buah tangan’ berdalih uang minyak. Ibarat ‘lauak puyu’ suka berenang di aia karuah’. Mereka pun bermain di nan karuah’. Bersambung
Penulis
Novri Investigasi


