
Janiah aianyo Batang Kuranji
Aia mangalia ka Siteba
Batanyo juo galanggang rami
Kok bronjong di Kampus Adzkia beda
Rang Pasisia ba parak gadang
Tumbuah sarumpun Bungo mawar
Bronjong pasia disabuik urang
Partamo dibuek BWSS V di Sumbar
Pasca bencana yang melanda Kota Padang khususnya dan Sumbar umumnya, meninggalkan duka mendalam. Warga yang berada dibibir sungai merasakan akibatnya. Rumah, sawah, ladang, permukiman, porak porak dihantam banjir bandang.
Pasca bencana yang dahsyat itu, pemerintah melakukan perkuatan tebing dan mencegah erosi, abrasi dan menormalisasi sungai. Khusus di Kota Padang, perkuatan tebing dilakukan dengan cara penumpukan batu, pemasangan geobag dan bronjong

Bronjong Berbeda
Penanganan darurat oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V) dikerjakan PT. Nindya Karya, masih menimbulkan tanda tanya warga, terutama pekerjaan bronjong. Sebab, Bronjong yang digunakan berbeda beda.
Ada bronjong biasa dan bronjong pasir. Perbedaan itu, sangat mencolok di Jembatan Kampung Kalawi dan Kampus Adzkia. Dan, ini menimbulkan tanda tanya warga. Kenapa harus berbeda? Apakah tak terkesan pilih kasih. Atau faktor lain yang menyebabkan terjadinya perbedaan. Entahlah
Telusuran yang dilakukan sepanjang sungai penanganan bencana, diakui terlihat perbedaan. Di Batu Busuk, Lubuk Minturun dan Aia Dingin, hanya menggunakan bronjong biasa. Sedangkan di Jembatan Kampung Kalawi dan Kampus Adzkia menggunakan bronjong pasir
Bronjong Pasir Kokoh Rapi dan Pertama di Sumbar
Bronjong biasa dan Bronjong pasir, fungsinya sama untuk penahan tebing. Bronjong biasa, hanya berisikan batu kali atau batu belah. Sementara, bronjong pasir, diisi pasir atau material halus dan dibungkus geotekstil agar pasir tak keluar.
Ini sering juga disebut sand gabion atau Reno mattres. Isinya padat dan rapat. Sangat cocok buat meredam hantaman air deras di sungai maupun di pantai. Kelebihan lain kuat menahan beban dan tahan lama. Permukaan pun rata dan terlihat indah dipandang mata
Pengakuan petinggi BWSS V, bronjong pasir ini, pertama dibuat BWSS V di Sumbar. Pantas saja! Disamping kokoh, terlihat indah dengan geobag berwarna putih. Bak karung dalam sangkar, terlihat tersusun rapi dan menyejukkan lingkungan. Pantas saja warga bertanya. Kok, bronjong pasir ini, hanya digunakan di Jembatan Kampung Kalawi dan Kampus Adzkia. Kenapa tidak dilokasi lain. Ada apa? Bersambung
Penulis
Novri Investigasi


