
Oleh, Yaser Arafat, SH
Penghujung tahun selalu menjadi ruang jeda untuk menoleh ke belakang. bukan sekadar penanda pergantian kalender, tetapi juga cermin untuk menilai sejauh mana negara dan daerah hadir bagi rakyatnya. Tahun ini, cermin itu memantulkan dua wajah yang saling berhadapan, defisit anggaran di satu sisi, dan derita bencana di sisi lainnya.
Defisit anggaran bukan lagi istilah asing. Ia kerap hadir dalam laporan keuangan, rapat-rapat resmi, dan dokumen perencanaan. Angka-angka itu dingin, kaku, dan sering kali terasa jauh dari denyut kehidupan masyarakat Pasaman Barat. Namun di balik defisit, tersimpan konsekuensi nyata, ruang fiskal yang menyempit, program yang tertunda, dan pilihan-pilihan sulit yang harus diambil pemerintah.
Pada saat yang sama, bencana datang tanpa mengenal neraca keuangan. Banjir, longsor, angin kencang, dan berbagai musibah lain hadir membawa kerugian, air mata, dan kehilangan. Di titik inilah ironi itu terasa paling perih, ketika kebutuhan akan kehadiran negara justru memuncak, sementara kemampuan anggaran sedang terseok.
Masyarakat Pasbar terdampak bencana banjir dan longsor, tidak menanyakan besaran defisit. Mereka hanya berharap atap yang runtuh bisa diganti, jalan yang terputus segera diperbaiki, dan rasa aman kembali mereka rasakan. Harapan itu sederhana, tetapi menuntut kehadiran nyata, bukan sekadar penjelasan administratif.
Di tengah keterbatasan anggaran, ujian sesungguhnya terletak pada keberpihakan dan kepekaan. Bagaimana pemerintah menyusun skala prioritas, memangkas belanja yang tidak mendesak, serta memastikan setiap rupiah benar-benar menyentuh kebutuhan paling mendesak. Defisit tidak boleh menjadi alasan untuk abai, melainkan pemicu untuk bekerja lebih cermat dan jujur.
Penghujung tahun ini seharusnya menjadi pengingat bahwa bencana bukan hanya persoalan alam, tetapi juga persoalan kesiapan, perencanaan, dan tata kelola. Setiap rupiah yang tidak efektif di masa tenang, akan terasa mahal ketika bencana datang. Setiap keputusan yang ditunda, bisa berujung pada penderitaan yang berlipat.
Di antara defisit anggaran dan bencana, harapan masyarakat tetap sama, Pemerintah Daerah hadir dengan empati, kebijakan yang berpihak, dan langkah nyata. Tahun boleh berganti, angka boleh berubah, tetapi kepercayaan publik hanya bisa dijaga dengan keberanian untuk mendahulukan kemanusiaan di atas segalanya.
Penghujung tahun ini bukan sekadar penutup, melainkan alarm. Alarm bahwa ke depan, pengelolaan anggaran dan mitigasi bencana harus berjalan seiring, agar setiap krisis tidak lagi selalu berujung pada duka yang sama. (*)


