
Pasbar, Investigasionlin– Cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Pasaman Barat dalam beberapa pekan terakhir membuat Bupati H. Yulianto mengimbau seluruh masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, baik di lingkungan rumah tangga maupun lahan perkebunan. Peringatan ini disampaikan sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi bencana yang dapat menimbulkan kerugian besar.
Bupati Yulianto menegaskan, masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam beraktivitas, terutama di kawasan yang rawan api. Ia mengingatkan agar tidak meninggalkan sumber api dalam keadaan menyala, serta mengawasi anak-anak yang bermain di sekitar rumah.
“Kita berharap masyarakat Pasbar selalu berhati-hati, terutama anak-anak yang ditinggal di rumah, agar tidak bermain dengan benda-benda yang mudah terbakar,” ujar Bupati Yulianto, Rabu (5/11/2025).
Pernyataan itu disampaikan menyusul terjadinya kebakaran lahan sawit di Kecamatan Gunung Tuleh pada Minggu (2/11/2025). Kebakaran tersebut melanda area perkebunan sawit warga yang terletak di sebelah SMPN 2 Gunung Tuleh, Jorong Kartini, Nagari Muaro Kiawai. Lokasi kejadian diketahui berada di kawasan lahan gambut yang sangat mudah terbakar saat cuaca panas.
Bupati Yulianto menekankan pentingnya kerja sama seluruh pihak dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, kewaspadaan dan kepedulian bersama merupakan kunci dalam mencegah kebakaran.
“Jangan biarkan cuaca panas menimbulkan bencana baru di tengah masyarakat. Semua harus ikut berperan menjaga lingkungan,” tegasnya.
Sebagai langkah nyata, Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan patroli rutin dan sosialisasi pencegahan kebakaran lahan ke berbagai nagari. Upaya ini diharapkan dapat menekan risiko kebakaran sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keselamatan diri, keluarga, dan lingkungan.
Kepala BPBD Pasaman Barat melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Afrizal, didampingi Tim Reaksi Cepat (TRC) Kuria Sakti, membenarkan terjadinya kebakaran di Gunung Tuleh tersebut. Ia menjelaskan bahwa kebakaran bermula ketika warga melakukan pembersihan kebun sawit berusia dua hingga dua setengah tahun dengan cara membakar sisa ranting dan semak belukar.
“Diduga api dengan cepat merambat ke area lain karena kondisi lahan yang kering dan berangin. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 2,5 hektare,” jelas Afrizal.
Tim TRC bersama masyarakat segera melakukan upaya pemadaman di lokasi. Namun, medan yang sulit dan tidak bisa dilalui kendaraan pemadam kebakaran menjadi kendala utama. Pemadaman akhirnya dilakukan secara manual menggunakan pompa air portabel dan ember oleh warga setempat.
“Alhamdulillah, api berhasil dipadamkan setelah beberapa jam upaya keras di lapangan. Kami bersama warga melakukan pemutusan aliran api agar tidak menjalar ke pemukiman penduduk,” tambahnya.
Afrizal menegaskan bahwa kejadian ini menjadi peringatan penting bagi seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran terbuka, khususnya di wilayah lahan gambut. Ia mengimbau agar setiap aktivitas pembersihan lahan dilakukan dengan cara yang aman dan ramah lingkungan.
Selain itu, BPBD meminta masyarakat agar segera melaporkan jika melihat tanda-tanda kebakaran kecil di sekitar mereka.
“Langkah cepat bisa menyelamatkan banyak hal. Kami siap turun kapan pun jika ada laporan dari warga,” ujar Afrizal.
Dengan meningkatnya suhu panas di Pasaman Barat, pemerintah daerah berharap masyarakat tidak hanya waspada, tetapi juga aktif menjadi garda terdepan dalam menjaga keselamatan lingkungan dari ancaman kebakaran. Cuaca panas boleh menyengat, namun kesadaran bersama akan membuat Pasbar tetap aman dan terbebas dari bencana. fat


