
Sepertinya, sudah menjadi tradisi, hanya sekedar menyenangkan hati. Padahal, laporan diterima tak sesuai kenyataan yang terjadi. Akibatnya, laporan Asal Bapak Senang (ABS) tak sesuai kenyataan. Malah, laporan ‘berbungkus’ kebohongan itu yang dikonsumsi publik. Keberhasilan semu, walau dilapangan tak seperti itu
Memakai pribahasa Tiongkok,
‘Bai wen bu ru yi jian’. Mendengar 100 kali tidak sebanding dengan melihat satu kali. Maknanya, jangan mudah percaya dengan apa yang dikatakan bawahan. Lebih banyak melihat dengan mata kepala sendiri daripada hanya mendengarkan. Ini yang terlupakan kepala daerah, kepala dinas, maupun kepala lainnya
Bagi mereka laporan Asal Bapak Senang, dianggap final dan kenyataan yang terjadi. Walau tak pernah melihat langsung atau membandingkan laporan yang diterima dengan yang terjadi di lapangan.
Padahal, pemahaman akan mudah diperoleh dengan mantap dan terbukti, jika kita merasakan langsung. Baik yang kita lihat, kita dengar ataupun kita rasakan. Sehingga, kesimpulan dapat kita ambil, setelah melihat ke lokasi dan cek kelapangan sesuai laporan
Lebih baik, melihat dengan mata kepala satu kali, daripada mendengar cerita orang atau bawahan 1000 kali. Kadang ini, terlupakan oleh pimpinan, kepala daerah ataupun kepala dinas dalam menerima laporan. Duduk dibelakang meja, menerima laporan dan menelan mentah mentah, tanpa tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Laporan Infrastruktur Sering Menjadi Persoalan
Laporan yang sering diterima dan disampaikan ke publik, tak tepat sasaran, terkait pekerjaan infrastruktur. Baik itu, jalan, jembatan, irigasi, bangunan dan lain sebagainya. Suatu contoh, saat memasuki Idul Fitri 1447 H kemaren, keluar pernyataan kontraversial. 10 H, jalan nyaman dilewati pemudik yang pulang kampung lebaran.
Kenyataan, masih banyak jalan berlubang tak diperbaiki. Sementara, berita disampaikan, seakan jalan tak jadi persoalan dan sudah terbereskan saat mudik lebaran. Ada lagi, berita tersampaikan ke publik. Kondisi jalan di Sumbar, baik jalan kabupaten/kota, provinsi dan nasional sudah mulus. Jalan berlubang sudah banyak yang diperbaiki. Transportasi lancar, ekonomi menggeliat
Bahasa ini, sering memanjakan warga. Menyampaikan ke publik disertai dokumentasi. Diambil lokasi poto jalan yang ‘rancak’ beraspal hitam dan bergaris putih, terlihat indah dipandang mata.
Padahal, itu hanya beberapa kilo. Sementara puluhan kilo lain, berlubang ‘bak kubangan kerbau’ namun tertutupi oleh rekayasa laporan itu. Akhirnya, terkuak juga oleh poto dan viral oleh netizen, terkait kondisi dilapangan sebenarnya dan kenyataan yang terjadi. Laporan ABS itu, berujung dirujak netizen ramai ramai
Mencuat lagi, misalnya ratusan miliyar, akan mengalir deras untuk pembangunan infrastruktur jalan di daerah ini. Berita itu pun digadang gadangkan, seakan ini sebuah perjuangan. Padahal, yang dilaporkan baru sebatas usulan. Dan, tanpa melakukan cek and ricek, apakah anggaran sudah ada atau belum.
Termasuk juga pembebasan lahan untuk jalan tol, flyover Sitinjau Lauik dan pekerjaan infrastruktur lainnya, digadang gadangkan, pembebasan lahan selesai, tak ada masalah. Setelah pekerjaan dimulai, pembebasan lahan berulah, pekerjaan terhenti.
Kabar Gembira, Berakhir Kecewa
Begitu juga, berita selesainya suatu mega proyek. Beredar berita, mega proyek itu, akan selesai tiga bulan kedepan. Laporan itu, memang benar sesuai kontrak yang ditanda tangani dan waktu pelaksanaan yang telah disepakati. Tapi, apakah progres dilapangan sudah sesuai dengan laporan tersebut.
Dan, dalam suatu pekerjaan proyek, banyak menjadi penyebab keterlambatan atau molornya pekerjaan. Seperti, cuaca yang menjadi kendala dan pembebasan lahan yang menjadi penghambat. Tanpa melihat progres dan kendala dilapangan, laporan diterima mentah. Berita wah, mencuat kepermukaan, walau tak sesuai kenyataan. Kabar gembira ini, berakhir kekecewaan
Ini hanya, sebagian dari contoh, jika hanya menerima laporan dibelakang meja. Tanpa melihat kenyataan yang terjadi. Asal Bapak Senang ini, menjadi jurus untuk mengelabui dan menyembunyikan kondisi dilapangan yang sebenarnya. Laporan ABS pun, menjadi konsumsi publik
Semestinya, seseorang pimpinan, kepala daerah, kepala dinas, sebelum mengambil kesimpulan, perlu ada ‘penglihatan’ yang sempurna terhadap sesuatu yang hendak kita sampaikan ke publik. Agar tidak terjadi bias dan salah dalam menyampaikan. Lebih baik melihat dengan mata kepala satu kali, daripada mendengar cerita orang 1000 kali. Demi, mendapatkan informasi yang pasti. Bersambung
Penulis Novri Investigasi
Wartawan Utama


