
Dulunyo kito sabiduak sairing jalan
Mangalah kini sampai hati den batinggakan
Sangsaro hiduik salamo ko samo dijalani
Dek SK PPPK kito bapisah kini
SK Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), seharusnya membawa bahagia, malah berakhir cerita duka. SK PPPK, selayak menjadi pemacu kebahagian, malah menjadi pemicu perceraian. Cinta terjalin selama ini, derita hidup sama dijalani, berujung tragedi. “Ado sama dimakan’ indak ado sama ditahan’ seakan hilang ditelan kegelapan
Viral Gugat Cerai dibeberapa daerah. Menggema seantero nusantara. Gugatan cerai yang dilakukan ASN (Aparatur Sipil Negara) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK, yang baru diangkat mengguncang dunia maya. Sontak ini, menuai tanggapan tajam netizen dan menjadi sorotan masyarakat.
Kenapa ini terjadi? Seharusnya kebahagian menyambut SK PPPK, gugatan cerai malah mengakhiri kebahagian rumah tangga. Suami bekerja banting tulang, menjadi kuli menghadang panasnya matahari, menantang badai dan hujan membasahi bumi. Demi, istri yang berjuang untuk mendapatkan SK PPPK istri
Sebaliknya, istri yang rela berjualan sayur keliliang, mencuci baju tetangga. Berjuang demi keluarga mengasuah anak sembari bantiang tulang. Membantu suami mencukupi kebutuhan rumah tangga. Seakan terasa sia sia. Setelah suami menerima SK PPPK, bukan kebahagian yang didapat, perceraian malah digugat.
Kisah Sedih Ibu Dua Anak
Kisah sedih, cerita duka, mengharukan dan menyayat hati, beredar di media sosial. Tangis Safitri ibu dua anak, meluluhlantakan perasaan. Genangan air mata, seakan tak tertahan. Perjuangannya selama ini, hilang ditelan kegelapan malam. Tulisannya, mengharubirukan perasaan. Sungguh pedih kisah hidup yang diceritakan
Ia mengungkap cerita duka dengan menyebut namanya. Dalam kisah itu, disebutkan, Namaku Safitri, ibu dari dua orang anak perempuan yang jarak usianya sangat dekat.
Aku adalah seorang penjual sayur yang berlumur embun dan air mata. Dua hari sebelum pelantikan PPPK-mu itu,
Kau jatuhkan cerai, mengakhiri janji di hatiku.
15 Agustus kau lulus dan dilantik megah.
17 Agustus, kau tinggalkan aku dengan patah. Kau bangga seragam Korpri biru yang melekat,
Tahukah kau? Itu kubeli dari hasil sayur yang aku jajakan, hingga menjadi puing rupiah. Kini aku harus pergi, meninggalkan rumah yang sepi dan seorang kasih yang berkhianat.
Aku pergi, membawa luka, dan dua hati kecil di sisi. Pergilah kau, dengan pangkatmu. Aku akan tetap hidup, dengan martabatku. Tak kuasa menahan air mata. Butiran kristal membasahi pipi. Membaca kisah menyayat hati. Oh Tuhan, apakah ia tak berhak menerima kebahagian. Sekarang dicampakan begitu saja, setelah SK PPPK diterima.
Penulis
Novri Investigasi


