
Catatan : Richard, Akb
Mahyeldi Ansharullah yang pernah menjadi “Garin” mesjid , bukan orang asing bagi rakyat Sumbar,
Anak buruh angkat di pasar Bukittinggi itu dimasa kecilnya sangat santun, rajin mengaji dan belajar untuk menapaki kehidupan yang lebih baik dimasa depannya.
Garin adalah petugas mesjid/ musala yang kesehariannya, melaksanakan azan lima waktu dan jadi imam, ngajar ngaji anak anak dan bersih bersih kawasan rumah ibadah.
Dwi Fortuna memang selalu mengiringi hidupnya sampai saat ini.
Pasca reformasi, tumbangnya pemerintahan orde baru rezim Soeharto 1998/1999 dan bertaburanlah fan tumbuh partai politik, dari tiga menjadi puluhan, bahkan seratusan Parpol waktu itu.
Berdirilah yang namanya PK/ PKS, Partai Keadilan Sejahtera, yang menyebar disuruh pelosok tanah air.
Singkat cerita Mahyeldi bergabung dengan Parpol tersebut dan berkompetisi penuh dengan mengandalkan partai bernuansa Islam tersebut untuk menjadi anggota DPRD Sumbar.
Dia lolos ke parlemen Sumbar tersebut dan jadilah dia anggota DPRD Propinsi Sumbar mewakili PKS.
Karena kepiawaiannya, Usai jadi anggota dewan, selanjutnya atas konkow konkow partainya dengan partai lain dicalonkanlah dia menjadi Wakil Walikota Padang yang berpasangan dengan Walikota Fauzi Bahar untuk periode kedua.
Memang Dwi Fortuna selalu padanya dan menang. Jadilah Fauzi Bahar dan Mahyeldi memimpin Padang lima tahun, bagi Fauzi periode keduanya.
Lima tahun setelah itu Mahyeldi dicalonkan lagi menjadi Walikota Padang berpasangan dengan Emzalmi Sekda Padang, memang lagi untuk lima tahun ke depannya.
Untuk periode kedua nya, Mahyeldi dicalonkan lagi oleh PKS berpasangan dengan Hendri Septa (PAN). Ternyata menang lagi begitu hebatnya karir Mahyeldi, seperti tidak ada tandingannya.
Karena begitu besarnya dukungan masyarakat terhadapnya, untuk periode kedua hanya didukinya sekitar 2,5 tahun.
Mahyeldi dicalonkan lagi oleh PKS untuk menjadi Gubernur Sumbar bersama Audy Joinaldy, menang lagi.
Kini untuk periode kedua berpasangan dengan Vasco Rusaimy ,(Gerindra).
“Ratak tangannya”. Mahyeldi memang penuh dengan keberuntungan. Ndak pernah kartu mati, walaupun ” dihoyak” dengan isu macam macam. Sampai sampai ada yang merendahkan posisi “Garin”.
Tapi itu pula yang membuat rakyat menyayanginya. Menang lagi periode kedua.
Dengan bermodal “ilmu garin” untuk itulah Mahyeldi lebih menekankan aktifitas Ramadhan beriktikad di sejumlah mesjid di Sumbar ..
Disamping memberikan siraman rohani ke rakyat, sekaligus menyerap aspirasi di lini terbawah.
Kehadiran Mahyeldi disambut hangat oleh jamaah dan pengurus masjid.
Momen iktikaf bersama gubernur menjadi kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat dimana ia kunjungi.
iktikaf merupakan bagian dari rangkaian Safari Ramadan yang sengaja diperpanjang hingga dini hari. Sejak pukul 02.00 WIB hingga menjelang subuh, rombongan gubernur melaksanakan iktikaf di sejumlah masjid di Sumbar.
Tidak ada nuansa lain, kehadirannya semata-mata untuk beribadah dan beriktikaf bersama masyarakat,
Kebiasaan yang terus dijaganya sejak awal menjabat sebagai gubernur.
Mahyeldi bersama masyarakat tidur di masjid dan beribadah bersama.
Ini sudah dilakukannya sejak jadi gubernur/ periode pertama.
Kunjungan dan iktikaf Gubernur Mahyeldi semoga menjadi penyemangat baru bagi jamaah dalam menyemarakkan Ramadhan, meningkatkan iman dan taqea , sekaligus mempererat ukhuwah dan kebersamaan di tengah tengah masyarakat.
Akan terwujud kondisi kondusif dari kota sampai desa/ kampung.
Partisipasi pembangunan akan meningkat pula.


