
‘Mungkin Tuhan telah mulai bosan. Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga akan dosa dosa’ (Ebit G. Ade)
Bukan tabang sumbarang tabang.
Jikok lai takuik datang galodo
Urang kampuang sawah jo ladang
Nan taniayo (Tiar Ramon)
Dua bait lagu, menggambarkan kisah, musibah dibalik banjir dan longsor yang menghantam Ranah Minang, meluluhlantakan negeri yang terkenal dengan Adat Basandi ‘Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’. Bencana yang terjadi, menikam hati, merobek sanubari, bukan terjadi tanpa sebab. Tapi, ada sebab dan akibat.
Hujan dan cuaca ekstrem, mengakibatkan banjir dan longsor, itu bergema dibalik musibah bencana. Kita lupa, hujan membuka rahasia perbuatan kita yang disembunyikan selama ini. Pemalakan, pengundulan, alih fungsi lahan semena – mena, hilangnya daerah resapan, aliran sungai yang disempitkan, menjadi penyebab bencana terjadi.
Ketika alam kehilangan keseimbangan. Ketika ‘tangan tangan’ orang tak bertanggungjawab, bergerak ringan membabat hutan. Ini bukan lagi takdir, tapi peringatan. Bencana ini, konsekwensi dan balasan perbuatan orang orang tak bertanggungjawab. Pembiaran pemalakan yang berlangsung bertahun tahun, berujung bencana. Hasil yang dinikmati segelintir orang, tapi derita dialami banyak orang
Ketulusan dan Pencitraan
Disaat luka merobek perasaan warga terdampak bencana. Disaat air mata membasahi pipi, disebabkan, kehilangan segalanya. Masih ada yang tega, memanfaatkan kesedihan. Seakan bencana ini, menjadi arena pencitraan diri, seakan ikut prihatin dengan bencana yang menimpa warga. Mengelilingi lokasi bencana diiringi kamera.
Kita tak bisa menutup mata, memang terjadi adanya. Masih ada relawan yang bekerja dengan tulus membantu warga terdampak bencana. Mereka bekerja dengan segenap jiwa. Bekerja tanpa kenal lelah, walau kurang tidur. Memanggul logistik, menembus medan berat. Menuju lokasi yang orang lain tak berani menempuh
Disisi lain, masih ada yang menjadikan bencana momen langka yang harus diabadikan dengan kamera. Bertindak heroik, memikul logistik. bak pasukan perang memangkul cangkul, membersihkan lokasi tertimbun longsoran. Dibalik aksi heroik itu, beberapa kamera ikut bicara.
Mengabdikan aksi itu dalam sebuah konten. Seakan peduli, padahal berbalut pencitraan. Begitu juga pejabat dan partai yang memberikan bantuan di lokasi bencana. Sebelum bantuan diberikan kepada warga atau posko yang tersedia, terlebih dahulu didokumentasikan, poto bersama dengan warga terdampak.
Poto bersama sembari menyerahkan bantuan kepada warga, tersebar luas di media massa dan media sosial. Ini terbuka nyata mengiringi bencana yang menimpa. Ada diam dan tulus membantu warga. Dan, ada juga bermain kata kata dan kamera. Bencana membukakan mata dan hati. Mana yang tulus dan mana yang pencitraan berkedok bantuan
Penulis
Novri Investigasi


