
Makin berat, jalan terjal dan berliku yang harus dilalui. Tidak mudah, sangat susah walau harus bertumpah darah. Nasib Semen Padang sulit diselamatkan untuk bertahan di Super League. Tinggal lima sisa laga. 7 point jarak dengan Persis Solo yang berada paling akhir diluar zona degradasi atau posisi 15 dan 6 poin dari Madura United juga berada di zona degradasi atau posisi 16
Memiliki poin 20 Semen Padang harus menyapu bersih lima laga tersisa. Itupun belum jaminan untuk bertahan di Super League. Sebab Persis Solok memiliki poin 27, tentu ingin mengincar kemenangan, demi menjaga jarak dari saingan terdekat Madura United dengan poin 26.
Apalagi lima laga dilakoni mengakhiri musim 2025 – 2026 cukup berat. Menghadapi Madura United di kandang, menjadi pertaruhan harga diri dan harga mati. Bagi Madura United menang melawan Semen Padang FC, membuka jalan keluar dari zona degradasi.
Semen Padang FC berharap kemenangan, demi memperpendek jarak menjadi 3 poin. Empat sisa laga yang harus dilakoni. Menghadapi Dewa United, Persik Kediri, Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta. Sulit dan berat, kecuali main mata. Itupun bukan langkah mulus, nasib juga tergantung laga Persis Solo dan Madura United di laga tersisa
Cuci Gudang, Ganti Pelatih
Entah apa yang terjadi. Setiap musim kompetisi, Kabau Sirah tak bernyali. Musim 2024 – 2025, dari awal kompetisi tak beranjak dari papan bawah. Meski dipenghujung kompetisi bangkit dan menghindari dari jurang degradasi. Sehingga bisa bertahan di liga teratas nasional
Belajar dari pengalaman dan menatap musim kompetisi 2025 – 2026, cuci gudang pun dilakukan. Datangkan pemain baru, ganti pelatih, berharap bisa berbicara pada kompetisi 2025 – 2026. Bukan sekedar partisipasi, bertekad meraih prestasi. Tapi apa yang terjadi, tak juga bernyali
Dua musim kompetisi, empat pelatih menangani, bukan. Evaluasi dan evaluasi, menjadi sebuah janji memperbaiki tim yang lebih teruji. Hendri Susilo pelatih lokal diharapkan membawa Kabau Sirah bangkit, tak bisa berbuat banyak. Alhasil, Hendri Susilo didepak
Eduardo Almeida didapuk menggantikan pada separoh musim kompetisi 2024 – 2025. Cuci gudang pemain pun dilakukan. Pemain asal Portugal dibawa memberikan warna permainan Kabau Sirah.
Tetap dirudung duka, Eduardo Almeida pun tak bisa membawa Semen Padang FC bangkit.
Menjalani musim kompetisi 2025 – 2026, diharapkan Semen Padang FC, mampu bersaing tak seindah dibayangkan. Seperti sudah ditakdirkan dan setia menghuni papan bawah atau zona degradasi. Tak kunjung ada perbaikan, Eduardo Almeida pun didepan dan digantikan Dejan Antonic
Sudah menjadi kebiasaan, ganti pelatih pemain barupun didatangkan dengan istilah cuci gudang. Bukan gudang yang bersih, malah semakin berdebu, meski didatangkan pemain baru. Dipenghujung kompetisi 2025 – 2026, Antonic dipinggirkan.
Pelatih lokal Imran Nahumarury yang sukses membawa Malut FC bersaing dipapan atas Liga 1, menjadi tumpuan menyelamatkan Kabau Sirah. Awalnya, berjalan mulus, laga perdana mampu menundukkan PSBS Biak saat tandang.
Bukan berlanjut, kembali melangkah surut, setelah itu Semen Padang FC kembali puasa kemenangan. Dilihat dari sisa laga, rasanya sulit untuk menyelamatkan Semen Padang FC dari jurang degradasi. Namun, kita berharap keajaiban yang terjadi. Jadi pertanyaan, pecinta sepakbola di Ranah Minang. Kenapa nasib Semen Padang FC seburuk ini. Siapa yang salah? Kita kupas edisi berikutnya
Penulis
Novri Investigasi


