
Oleh: Jon Hendri
Di ranah Minangkabau, petuah lama itu tak pernah usang: “Alam takambang jadi guru.” Alam yang terbentang mengajarkan keteraturan, keseimbangan, dan kebijaksanaan dalam menyikapi setiap perubahan.
Dari aliran sungai yang tenang hingga riuhnya angin di perbukitan, semua memberi pelajaran: bahwa hidup tidak selalu tentang apa yang terlihat, tetapi juga tentang bagaimana kita memaknai dan menyikapinya.
Hari-hari ini, ruang publik terasa semakin ramai. Percakapan mengalir dari satu sudut ke sudut lain—di lapau, di beranda rumah, hingga di dunia maya. Informasi datang silih berganti, cepat, bahkan kadang melampaui kemampuan kita untuk mencerna dengan jernih.
Di tengah arus itu, satu hal menjadi penting: sikap.
Apakah kita memilih ikut larut dalam riuh, atau berhenti sejenak untuk memahami?
Apakah kita langsung menilai, atau memberi ruang bagi akal sehat untuk bekerja?
Dalam khazanah Minangkabau, dikenal ungkapan:
“Bajalan luruih, bakato bana.”
Berjalan di jalan yang lurus, berkata dengan kebenaran.
Maknanya sederhana, namun dalam. Bahwa dalam setiap keadaan, manusia dituntut untuk tetap jernih, tidak tergesa-gesa, dan tidak mudah terbawa arus.
Kepercayaan, dalam konteks kehidupan bersama, adalah sesuatu yang tidak tampak, namun sangat terasa. Ia tumbuh dari sikap yang bijak, dari cara kita merespons, dan dari kemampuan untuk menahan diri di tengah godaan untuk segera menyimpulkan.
Alam mengajarkan keseimbangan—tidak berlebihan dalam melihat, tidak tergesa dalam menilai.
Karena tidak semua yang tampak adalah keseluruhan cerita.
Dan tidak semua yang ramai dibicarakan adalah kebenaran yang utuh.
Di sinilah kedewasaan diuji.
Menjadi bijak bukan berarti diam,
tetapi tahu kapan harus berbicara dan bagaimana menempatkan diri.
Menjadi peduli bukan berarti ikut arus,
tetapi mampu menjaga akal sehat di tengah derasnya informasi.
Sebagaimana pepatah lain mengingatkan:
“Alun takilek alah takalam.”
Belum terlihat kilat, sudah terdengar guruh—sebuah isyarat agar tidak terburu-buru dalam menilai sesuatu.
Pada akhirnya, yang kita jaga bukan sekadar pendapat,
melainkan marwah sebagai bagian dari masyarakat yang beradab.
Dan ketika alam telah mengajarkan begitu banyak hal,
pertanyaannya tinggal satu:
Sikap apa yang kita pilih untuk dijaga?
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis yang bertujuan memperkaya perspektif publik. Pandangan yang disampaikan tidak dimaksudkan sebagai klaim kebenaran tunggal serta tidak merepresentasikan kebijakan atau posisi resmi institusi mana pun.


