
Tak ada lagi, teriakan mengejar bola. Tak terdengar lagi pluit tanda pelanggaran maupun istirahat dan berakhir pertandingan. Tak ada lagi, selebrasi gol dan sorakan kegirangan. Semuanya, tenggelam akibat banjir dan longsor, meluluhlantakan, khususnya Kota Padang
Biasanya, lapangan sepakbola Brandon ramai dikunjungi. Baik untuk latihan maupun kompetisi. Sekarang, terasa sepi, bak rumah tanpa penghuni. Rumput hijau berganti tumpukan kayu gelondong. Membuat suasana lapangan yang dulu ramai kegiatan, sekarang kayu gelondong berserakan
Sedih, perih dan menyayat hati. Tempat bermain, berubah menjadi tempat tak bertuan. Kayu gelondong berserakan, terbawa arus banjir dan longsor tak ada yang membersihkan. Tak satupun mengaku bertanggungjawab, semua bungkam tanpa rasa berdosa. Siapa pemiliknya? Hanya itu yang keluar dari bibir warga
Ada keraguan dan takut menimbulkan persoalan, sehingga warga terkesan membiarkan. Takut bersalah, tak ingin mengolah, nanti dibilang menjarah. Sekarang hanya bisa pasrah. Berharap kepedulian pemerintah daerah, agar kayu itu diangkat, sehingga tumpukan tak menganggu lapangan sepakbola, tempat warga berolahraga
Sampai kapan ini, dibiarkan. Haruskah, lokasi ini akan menjadi lautan kayu. Tak terurus dan merusak pemandangan. Tak kunjung dapat jawaban, walau tanggap darurat bencana sudah dihentikan.
Hanya air memandang duka, dulu lapangan sepakbola, kita lautan kayu tak jelas rimbanya. Mau diapakan, terus dibiarkan, bak kampung tak bertuan. Siapa pemiliknya, siapa yang bertanggungjawab. Tanya saja sama hilalang yang tumbuh tanpa diundang
Penulis
Alwisray


