
Ini bukan judul lagu, bukan juga judul puisi. Tak ada kaitan dengan judul Cerita Pendek (Cerpen) maupun Cerita Bersambung (Cerbung). Hanya sebuah ilustri sosok pemimpin di negeri ini. Banyak gaya, hasil tak terlihat nyata. ‘Manang dek gaya’ kalah dek karajo’
Selama ini, ada kesan wah. Segala kegiatan viral dimedia sosial. Apa yang dilakukan dipromosikan, seakan kerja nyata berharap pujian. Konten dimainkan, orang penting didatangkan, agar rakyat tahu, kuatnya hubungan dengan orang hebat. Ingin memberi tahu, kedekatan ini, memudahkan menggaet dana pusat
Penghargaan Menjadi Ukuran
Keberhasilan pemimpin, dilihat dari penghargaan yang diterima. Stigma lama yang masih menggelora. Kamuflase pencitraan menarik simpatik warga. Penghargaan jadi kebanggaan, membusung dada pemimpin yang hebat. Berkat kepedulian dan kinerja yang baik. disematkan penghargaan.
Sederet penghargaan menghiasi dinding kantor, lemari pajangan. Membahana dimedia lokal maupun nasional. Dijemput dari Bandara dan diarak sekeliling Kota. Dibawa pakai mobil terbuka, seakan memberi tahu kepada warga. Inilah keberhasilan mereka. Wah, hebat, berharap ucapan itu keluar dari bibir warga.
Terpuruk Berbalut Prestasi
Fakta tak bisa ditutupi, realita berbalut prestasi. Hanya kebanggaan semu, tiada arti. Penghargaan, piagam dan piala, tak mampu menutupi, kenyataan yang terjadi. Sebuah luka menggores negeri ini, sebuah fakta menyayat hati. Kabar buruk, membuka mata dan telinga. Sepuluh besar terpuruk secara nasional
Tak usah dibuka, semua sudah terbuka. Tak perlu dikupas, semua sudah dibahas, prestasi hanya sebuah pajangan saja. Berbeda dengan hasil yang diterima. Sunggu ironis, penghargaan tak berbuah manis, bahkan sangat miris. Kenyataan membuat bhatin menangis. Ya, menang dek gaya. Sesuai judul yang mengemuka.
Catatan
Novri Investigasi


