
Urang rantau taragak pulang
Takana kampuang sarato dunsanak
Batang Arau Muaro Padang
Dulu kumuah kini lah rancak
Sairiang usaho sarato doa
Siang malam mancari pitih
Kini manjadi tampek wisata
Abadikan Legenda Sitinurbaya jo Datuk Maringgih
Antah pabilo lapeh taragak
Batamu kawan samo gadang
Kapa Datuk Maringgih kini lah rusak
Bakapiang cando dihampeh galombang
Bundo malapeh jo aia mato
Antah pabilo jaso ka babaleh
Indak juo ka dipaliharo
Takuik hilang indak babakeh
Kepedulian Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Direktorat Jenderal Cipta Karya (Ditjen CK) melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sumbar, pantas diapresiasi. Gelontoran dana APBN senilai Rp54 Miliar, merubah wajah Batang Arau yang dulu kumuh berat, sekarang menjadi lokasi wisata dan menjadi icon Kota Padang
Pekerjaan yang dilakukan secara bertahap melalui DIPA tahun 2016, 2018 dan 2019 yang berlokasi di Batang Arau. Mulai dari Muaro Padang sampai jembatan Seberang Padang, sudah dirasakan manfaatnya oleh warga. Sayang, proyek yang sudah dilakukan serah terima itu, tak kunjung dilakukan perawatan dan pemeliharaan
Padahal, sudah dilakukan dua kali dan dua walikota serah terima pekerjaan. Tahap pertama pekerjaan senilai Rp25 M sudah dilakukan serah terima antara Zulherman Kepala Satuan Kerja (Ka Satker) BPPW kepada Walikota Padang, Mahyeldi tahun 2019, tepatnya hari Sabtu, 1 Januari 2019.
Lalu untuk lanjutan senilai Rp54 Miliar, juga sudah diserah terimakan antara Diana Kusumaastuti Ditjen Cipta Karya dengan Hendri Septa, Walikota Padang, 9 September 2021. Meski sudah diserahterimakan, sampai sekarang tak pernah dilakukan pemeliharaan atau perawatan. Akibatnya, kapal Datuk Maringgih pecah berkeping keping dihantam badai dan hujan deras
Abadikan Legenda Datuk Maringgih dan Sitinurbaya
Proyek bertajuk Peningkatan Kawasan Kumuh Batang Arau, tahap pertama senilai Rp25 M tahun 2019, disamping menyulap kawasan kumuh berat menjadi lokasi wisata bersejarah, juga mengabadikan cerita legenda Datuk Maringgi dan Sitinurbaya.
Dan, ini menambah pesona wisata Batang Arau yang juga menjadi pusat kota perdagangan di masa penjajahan Belanda. Letaknya yang strategis, dengan adanya sungai Batang Arau, Samudera Hindia, menuju akses wisata Gunung Padang dan Pantai Air Batu Malin Kundang, menjadi daya tarik wisatawan
Cerita legenda yang tertuang dalam pekerjaan proyek itu, diantaranya Kapal Datuk Maringgih. Tidak saja dilengkapi patung Datuk Maringgih, juga disertai 3 Dimensi dan kerlap kerlip lampu memancarkan pesona di malam hari. 3 Dimensi itu, seakan kapal itu berlayar diayunan gelombang ditengah laut berwarna biru
Ada juga tugu dengan ukiran yang menggambarkan alur cerita Siti Nurbaya. Namun, tugu berukiran indah disertai alur cerita itu, tak banyak diketahui orang. Karena, kurangnya sosialiasi dan promosi. Patung Siti Nurbaya juga tersaji di Medan Nan Bapaneh, tempat bermain bola, kolam cinta Sitinurbaya dan air mancur
Seiring perjalanan waktu, cerita legenda itu tak lagi mencuat kepermukaan. Tinggal sebuah cerita tanpa makna. Tak terawat dan tak terpelihara. Jika dibiarkan tanpa ada perhatian, cerita itu, bakal hilang tak babakeh. Padahal, sudah dilakukan serahterima kepada Pemko Padang. Tentu timbul pertanyaan, apakah hancur berkeping kapal Datuk Maringgih, dibiarkan begitu saja. Entah. Bersambung
Penulis
Novri Investigasi


