
Sijunjung, Investigasi_Persimpangan Pangeran jalan yang tenang. Muaro Sijunjung, hidup seorang maestro yang menulis kisahnya bukan dengan tinta, tetapi dengan nada dan rasa.
Dialah Iswandi SH, MH — seorang pensiunan dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Ia menemukan makna baru dalam hidup melalui musik dan pengabdian budaya.
Dari Peta Tanah ke Peta Nada
Semasa bekerja di ATR/BPN, Iswandi dikenal sebagai sosok disiplin dan berdedikasi. Namun di balik rutinitas kedinasan itu, ia menyimpan dunia sunyi yang berisi nada-nada kehidupan. Seusai jam kantor, ia menulis lirik, menyusun melodi, dan membiarkan jiwanya berbicara melalui lagu-lagu Minang yang sarat makna.
“Musik bagi saya adalah cara berbicara tanpa perlu banyak kata,” ujarnya suatu ketika dengan senyum sederhana.
Dan dari situlah lahir karya-karya yang menggugah. Lahir dari hati yang tulus dan cinta pada budaya sendiri.
Lagu-Lagu yang Hidup Selamanya
Iswandi bukan sekadar pencipta lagu; ia adalah penjaga rasa dan identitas Minangkabau.
Karya-karyanya mencerminkan perjalanan batin masyarakat Minang — tentang cinta yang terhalang, rindu yang tak selesai, dan adat yang menuntun hati pulang.
Beberapa lagu ciptaannya yang dikenal luas antara lain, Cinto Babaluik Luko, Tasisiah, Undangan Pangubua Cinto, Basibak Basisiahkan, Sayuik Sarueh
Yang membuat karya-karya ini abadi adalah suara-suara besar yang membawakannya. Nama-nama legendaris seperti almarhum Zalmon, Kardi Tanjung, Anroys, David Iztambul, dan sejumlah artis Minang papan atas lainnya telah menyanyikan lagu-lagu ciptaan Iswandi.
Lewat mereka, melodi ciptaannya mengalun ke seluruh pelosok ranah Minang — menjadi bagian dari kenangan dan kehidupan banyak orang.
Dari Panggung Hati untuk Generasi Baru
Kini, di masa pensiunnya, Iswandi tetap aktif membina generasi muda.
Bertempat di Muaro Sijunjung, Simpang Pangeran, ia mendirikan Bina Vokalia dan membuka ruang bagi siapa pun yang ingin belajar menyanyi.
Ia membimbing mereka bukan hanya dengan teknik, tetapi dengan jiwa seni yang berakar pada nilai dan rasa.
Ia juga mengelola kanal YouTube “Iswandi SH Channel”, tempat ia memperkenalkan karya-karya lama dan baru — agar musik Minang tetap berdenyut di era digital.
“Kalau jiwa kita masih hidup untuk berkarya, berarti kita belum benar-benar pensiun,” ujarnya pelan tapi pasti.
Nada yang Tak Pernah Pensiun
Bagi Iswandi, pensiun bukan perhentian — melainkan peralihan dari mengabdi lewat tugas negara menjadi mengabdi lewat nada dan budaya.
Ia mungkin tak lagi memegang peta bidang tanah, tetapi kini ia menggambar peta perasaan dan makna dalam bentuk lagu.
Setiap liriknya adalah kenangan, setiap melodinya adalah doa agar seni Minang terus hidup dan bergaung.
Dan, seperti alunan petikan gitarnya yang lembut, karya Iswandi SH, MH akan terus bergema, menembus waktu dan generasi.
Karena, bagi sang maestro, nada tidak pernah pensiun — ia hanya berpindah dari suara ke jiwa. ( Jhon Bass) .


