
SIJUNJUNG, INVESTIGASI_Jalan longsor, memang persoalan klasik menyertai ‘urat nadi perekonomian’ itu. Tidak saja, mempengaruhi arus lintas, juga menganggu perekonomian. Penanganan segera harus dilakukan untuk mengatasinya, walau kadang sifatnya sementara, disebabkan persoalan anggara tersedia

Namun, tetap memperhatikan mutu dan kualitas, agar bisa bertahan lama, menjelang dilakukan pekerjaan permanen. Longsor, juga kerap terjadi di jalan provinsi. Salah satunya di Sijunjung – Tanah Badatung. Sekarang sedang tahap perbaikan yang dikerjakan PT. Panyalae Muda Mandiri. Bahkan, proyek milik Dinas Bina Marga Cipta Karya Tatang Ruang (BMCKTR) itu, memasuki finishing, tinggal penguncian
Material Diragukan
Terlepas rekonstruksi yang dilakukan jalan Sijunjung – Tanah Badantung, senilai Rp1.211.478.000.00, bersumber APBD Provinsi Sumatera Barat, dalam tahap penyelesaian. Namun, material digunakan menjadi tanda tanya. Terutama, geotekstil, bronjong dan material batu. Bukan diragukan, tapi perlu dipertanyakan pada pekerjaan masa pelaksanaan 120 hari kalender
Terutama geotekstil yang berfungsi untuk memperkuat tanah, memisahkan lapis tanah yang berbeda, menyaring aliran air dan mencegah. Pasalnya, terkesan tak dipasang untuk lantai. Bahkan, sebelum dilakukan penguncian, geotekstil hanya terlihat muncul dipuncak pekerjaan bronjong. Sementara, bagian dikiri kanan, bronjong tak terlihat geotekstil
Kalau tertutup bronjong, tentu terlihat juga disisi kiri dan kanan, seperti terlihat dibagian puncak. Begitu juga bronjong digunakan, memang pabrikasi dan tak ada rakitan, tapi sebagian terlihat berkarat. Termasuk juga material batu digunakan, terkesan beragam. Ada batu gunung, batu kali, batu cadas, terselip juga batu kapur yang mudah pecah. Ronggapun masih terlihat pada pekerjaan bronjong itu
Tinggal Pengunci
Sementara, saat dikonfirmasikan kepada Adratus, Kabid BM Dinas BMCKT via WA nya, Jumat (26/9), hanya menjawab singkat.’Itu kondisi terkini. Tinggal kerja pengunci,” katanya sembari mengirimkan video dan poto pekerjaan. Nv


